| Sabtu, 07 Agustus 2004 | PANTURA |
Gudeg Yogya Sapto, Bisa Makan di MobilKERAMAIAN di Lapangan Mataram belakangan ini ternyata tidak disia-siakan oleh para pedagang makanan. Bermacam-macam makanan disediakan di sana, dari minuman, bubur, sampai nasi. Semuanya sangat laku, apalagi pada Jumat atau Minggu. Jumat memang menjadi hari olahraga pegawai negeri. Sapto, warga Perumahan Gama Permai 112 Pekalongan, juga memanfaatkan kesempatan itu dengan berjualan gudeg yogya dan bubur manado. ''Alhamdulillah, dagangan kami makin hari makin laris,'' kata Sapto yang asli Yogyakarta itu. Pada hari-hari biasa, dia yang berjualan mulai pukul 05.30 hingga 10.00 itu menghabiskan 5 kg gudeg dan beras 6 kg. Adapun pada hari Jumat dan Minggu serta hari-hari libur lainnya mencapai dua kali lipat. ''Pada Jumat dan Minggu kami menghabiskan beras 10-12 kg,'' kata Sapto. Larisnya gudeg Yogya yang dijual di tepi Lapangan Mataram itu memang tidak dipungkiri. Betapa tidak, selain gudegnya enak dan rasanya manis layaknya gudeg asli dari Yogya, harganya pun tergolong murah. Satu porsi gudeg dengan ayam suwiran, telor, dan tahu serta dilengkapi daun singkong dan sambal hanya Rp 4.500. Kalau pembeli menginginkan ayam paha atau lainnya hanya Rp 6.000. Minumannya disediakan minuman mineral gelas. Makanan yang dijual itu pun tidak dijajakan dengan bangku atau tenda layaknya orang berjualan. Dia menggunakan bak belakang mobil sedan Honda H-78180-QA yang sehari-hari digunakan untuk latihan atau kursus mengemudi mobil. Adapun tempat duduknya telah disediakan kursi plastik yang dibawanya dari rumah. Dengan demikian, pembeli dapat makan sambil duduk di di kursi plastik. Di Dalam Mobil Apakah ada yang malu jika makan di tepi jalan? ''Memang ada juga yang malu jika dilihat orang yang dikenalnya. Namun saya memberikan kesempatan kepada pembeli untuk makan di dalam mobil. Dengan cara itu, maka tidak heran jika pembeli bukan hanya kelas bawah tetapi juga kelas atas,'' akunya. Tidak percaya? Lihat saja setiap hari. ''Pembelinya bukan warga biasa, tetapi juga banyak pegawai dan para siswa serta guru yang biasa berolahraga,'' katanya. Nah, kini dengan gudegnya, Sapto merasa lebih tenang dalam menatap masa depan. Sebab sebelumnya, lelaki yang beristrikan Ida dari Manado itu hanya bekerja sebagai instruktur kursus setir mobil yang tentu belum bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. ''Melihat lapangan Mataram makin ramai, maka kesempatan itu saya gunakan untuk mencoba berjualan gudeg sejak Mei lalu. Hasilnya, tidak seperti diperkirakan sebelumnya. Dari waktu ke waktu semakin meningkat,'' akunya. (Trias Purwadi-34n) |