logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 07 Agustus 2004 WACANA
Line

SURAT PEMBACA

Gejala Minamata

Saya kaget ketika membaca berita lebih dari 100 warga Buyat, Ratatotok Minahasa Selatan, Sulawesi Utara diduga menderita penyakit minamata (minamatabyo). Mereka terkontaminasi logam berat arsen (As) dan merkuri yang mencemari Teluk Buyat.

Tiba-tiba aku ingat kasus "Minamata" ketika kuliah di Perikanan Undip dulu. Ya, kasus yang paling melegenda di dunia akibat merkuri adalah kasus Teluk Minamata, Jepang, yang merebak pertama kali 1955 dan mencapai puncaknya 1968.

Kasus itu bermula dari laporan sejumlah dokter di RS Chisso Minamata berkaitan dengan banyaknya pasien dengan kasus yang sama, yakni kerusakan sistem syaraf. Dari televisi diketahui gejala penyakit ini, diawali gatal-gatal dan kejang, kemudian muncul benjolan.

Benjolannya banyak varian pada penderita, yakni di tangan, kaki, tengkuk, pantat, kepala atau payudara. Pada level ringan mereka mengeluh mulutnya kebal sehingga tidak peka terhadap rasa dan suhu, hidung tidak peka bau, mudah lelah dan sering sakit kepala. Sepertinya keluhan biasa, tetapi membuat hidup menjadi susah.

Pada level berikutnya, mereka yang terserang sistem syarafnya, termasuk otak tidak bisa mengendalikan gerakan tangan dan kaki, telinga berdenging sampai tuli. Kemudian daya pandang mata menyempit, bicara susah dan gerakan tubuh secara keseluruhan jadi sulit. Sebagian lagi pingsan, gila, atau meninggal dalam sebulan setelah serangan penyakit ini.

Joko Suprayoga

Jl Raya Sapen 99 Sukorejo, Kendal

***

Tiada Hari Tanpa Demo

Apa benar demokrasi identik demonstrasi. Saya kira kok tidak benar, justru demonstrasi adalah bagian dari kontrol sosial masyarakat dalam koridor negara yang menganut paham demokrasi. Namun bila demo terjadi setiap hari rasanya menjadi hambar dan melelahkan baik bagi aparat keamanan maupun yang melihatnya.

Lebih-lebih demo yang menyuarakan pemilu harus diulang. Wah bagaimana nih? Kini APBN diprediksi defisit Rp 16 triliun rupiah lebih. Dari mana dananya?. Misal tuntutan ini direspons oleh Pemerintah dan benar-benar dilaksanakan saya mengusulkan harus ada terobosan baru.

Sebab seperti diketahui primadona pendapatan negara kan pajak. Sekarang saja untuk mengejar defisit APBN, aparat pajak kewalahan. Apalagi kalau pemilu diulang. Barangkali Anda pernah mendengar Pajak Menghirup Udara (baca: Pamera). Tentu Anda akan tertawa, tetapi jangan lupa ada negara yang memberlakukan itu.

Kalau Pemerintah berani menerapkan Pamera, baru sedikit APBN mendapatkan suntikan dana. Kini orang lagi bingung mengikuti pendapat yang aneh-aneh, tetapi bisa jadi kenyataan wong di negara ini yang paling murah hanya udara.

Program pemerintah yang akan datang adalah aman, damai, adil dan sejahtera itu mahal dan harus diperjuangkan mati-matian. Silakan berpikir. Ya... apa iya.

Drs JP Arisnosusaty

Jl Cempaka Baru Rt 13/Rw 6

Kemayoran, Jakpus

***

Reuni SMEA Kristen

Salatiga Tahun 1980

Sudah 24 tahun tak pernah berjumpa dan untuk menyambung tali persahabatan kami akan mengadakan reuni bagi para alumnus SMEA Kristen Salatiga lulusan tahun 1980. Untuk itu dibentuk panitia, Ketua Tri Widiarto/Totok (0298-324022/08157729457).

Sekretaris Tri Siwi (0298-314154/08122564085), Bendahara Endang Pratiwi (0298-340106/08156616240), Humas Dewi Anggraeni (024-6922135/0817455049), Bambang Purwanto (081575040938), Wanto (08156612798), Maria (0298-325219/081575136821) dan Agus Purnomo (08122838484).

Setiap alumnus dimohon kontribusi minimal Rp 50 ribu, disetor ke Endang Pratiwi di BNI Cabang Salatiga, No Rek 137.001011127.901. Temu kangen akan diadakan 18 November 2004.

Dewi Anggraeni

Jl Merapi 36, Ungaran

***

Anda Meludahi Saya

Tanggal 29 Juli 2004 sekitar pukul 16.00 Wib, lalin Jl Raya Ngaliyan Boja Semarang ramai. Di depan gang/Jl Nusa Indah I antara Toko Ijo dan RM Padang, mobil saya melintas pelan di depan motor Bapak yang akan memotong jalan. Tetapi Bapak tiba-tiba meludahi saya.

Saya kaget, kemudian meminggirkan mobil dan turun bermaksud menanyakan. Saat saya panggil Bapak cuma menengok, kemudian memacu motor ke dalam gang. Saya tidak mungkin mengejar. Beberapa penduduk yang berkerumun, ada yang mengenali Bapak sebagai warga Perum Wahyu Utomo.

Bapak tinggi besar, berkaca mata frame hitam, umur sekitar 50-an tahun, kumis dan jenggot mulai memutih, tidak memakai helm hanya bertopi warna putih/krem, berkaos putih, bercelana pendek warna abu-abu kehijauan. Motor Bapak Honda Supra hitam merah.

Saya tidak bermaksud melakukan kekerasan atau membalas. Saat itu jika Bapak bersedia, saya mau mengajak Bapak ke kantor Polisi. Sekadar isengkah meludahi orang?. Seandainya Bapak berkenan bersilaturahmi, akan saya terima baik. Silakan hubungi 081 325 788 755.

Ida

Perum Permata Puri

Ngaliyan, Semarang

***

VCD Banjarnegara

Membaca berita soal tafsir isi VCD Polres Banjarnegara, rasa-rasanya ada yang belum tersentuh. Sejak reformasi bergulir, Polri bahkan TNI sedang berproses membenahi wilayah internalnya. Polri terpisah dari ABRI dan menuju target sesuai harapan masyarakat madani yang tentunya membutuhkan waktu memadai.

Enam tahun sejak awal reformasi bergulir terhitung baru berproses menempuh tempo 18,75`l% dibanding saat terjebak sistem status quo selama 32 tahunan.

Apa yang disampaikan Kapolwil Kombes AA Mapparessa pada acara pembinaan warakawuri, purnawirawan, dan anggota Bhayangkari di Aula Polres Banjarnegara, tidak mewakili Polri sebagai institusi.

Namun sebagai ungkapan hati nurani selaku warga negara yang tampaknya khilaf bahwa beliau masih dinas aktif. Terlepas soal beliau dianggap melanggar Telegram Rahasia (TR) Kapolri No 181/III/2004 yang berisi pernyataan bahwa kepolisian harus netral dalam pemilu.

Dan TR No 205/III/2004 menginstruksikan semua pimpinan dan kasatwil tidak boleh memerintahkan jajarannya untuk memilih salah satu capres, ada serangkaian hal yang perlu dikemukakan. Secara organisatoris, warakawuri, purnawirawan, dan anggota Bhayangkari sama halnya di lingkup kelembagaan TNI.

Kurang pas bila oleh masyarakat ditempatkan pada tataran garis komando dan berada murni di luar ruang publik. Pepabri misalnya, formal bersikap netral, tak memihak, tetapi, nonformal terserah pada masing-masing sesuai pilihan pribadi.

Sifat pembinaan, kendati menggunakan nama samaran masih dalam batas-batas wajar jika dikaitkan dengan takaran hati nurani yang hadir. Hati atau perasaan hati yang murni sedalam-dalamnya. Bukan hati yang selama ini terekayasa, terbawa arus sistem leadership para elite parpol dan ormas serta pemuka agama tertentu.

Pada pilpres putaran pertama lalu, capres/cawapres Mega-Hasyim selain menguasai Provinsi Jateng (baca termasuk wilayah Banyumas), juga Provinsi Sumatera Utara, Bangka Belitung, Bali, NTT, Kalimantan Barat. Perolehan secara nasional 31.569.104 suara (26,60%), posisi tanggal 26-7-2004 malam.

Pasti, dalam angka ini termasuk hasil optimal tim suksesnya yang kemungkinan besar pada pilpres putaran kedua mendatang calon pemilih akan menjatuhkan pilihan pada pasangan ini. Ini pun merupakan aset dasar bagi perolehan profit lebih besar lagi pada putaran kedua berwujud suara pemilih.

Sungkowo Sokawera

Jl Rancamanyar I/17, Bandung


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA