logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 07 Agustus 2004 NASIONAL
Line

Malam ini Final Putra-Putri Solo 2004

Bahasa Jawa Menjadi Momok bagi Finalis


SM/Wisnu Kisawa MENGENAL PANGGUNG: Lintang Ayuninggar dan Aris Sudanang, dua dari para finalis Putra-Putri Solo, saat mengikuti pengenalan panggung di Pendapi Gedhe kompleks Balai Kota Surakarta. (55j)

SABTU (6/8) malam ini, mungkin akan menjadi malam yang tak akan pernah bisa dilupakan bagi 10 pasang finalis Putra-Putri Solo (PPS) 2004. Bukan saja karena menjadi malam pemuncak, melainkan juga akan menjadi malam penentuan siapa yang terbaik dari mereka yang sudah terpilih tersebut.

Lintang Ayuninggar dan Aris Kurniawan sepertinya memang telah berusaha berbahasa Jawa dengan baik. Meski telah berusaha hati-hati dalam intonasi ataupun pelafalannya, toh mereka masih tetap saja harus mengulang percakapan beberapa kali.

Di antara berbagai materi pengetahuan tentang kebudayaan, pariwisata dan kepribadian, bahasa Jawa memang bisa dikatakan momok (selain bahasa Inggris) bagi para finalis PPS 2004. Setidaknya, hal itu diakui oleh sebagian para finalis. "Sebagai orang yang bukan asli dari Solo, bahasa Jawa memang manjadi materi yang cukup sulit bagi saya," tutur Hubertus Adi Hardianto, peserta yang lahir dan dibesarkan di Jakarta tapi kini tinggal di Solo.

Sepenggal peristiwa dalam acara pengenalan panggung bagi para PPS 2004 di Pendapi Gedhe Kompleks Balai Kota Surakarta tersebut bukan hal yang aneh. Ya, bukan aneh jika Lintang dan Aris harus mengulang percakapannya. Sebab, saat itu memang bukan hanya mereka saja yang mengalaminya.

Demikianlah memang, khusus untuk bidang tersebut agaknya memang dianggap para finalis PPS relatif berat. Padahal, seperti dikatakan ketua panitia Dra RAy Febry Hapsari Dipokusumo, sebenarnya penampilan mereka juga tak terlalu jelek. "Mungkin karena sudah menganggapnya sebagai momok, hingga ketika melakukannya malah menjadi tegang. Lalu mereka merasa bahwa penampilannya jelek, padahal tidak juga," ungkap istri Pengageng Parentah Keraton Surakarta GPH Dipokusumo tersebut.

Penampilan para finalis PPS 2004 bisa saja memang sudah lumayan, seperti yang dikatakan Febry tersebut. Namun, bagi juri seperti Dra Irawati Kusumarasri, soal pengetahuan tentang budaya Jawa masih perlu ditingkatkan. "Setidak-tidaknya kekurangan tersebut saya lihat pada animo mereka. Hal itu tampak ketika mereka ternyata lebih menguasai bidang lain," papar mantan Putri Solo pertama tersebut.

Sebuah Tengara

Itulah sebagian dari persiapan para finalis PPS 2004 menjelang malam final yang akan diselenggarakan di Pendapi Gedhe kompleks Balai Kota Solo. Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, yang jelas apa yang terjadi di tempat tersebut adalah tengara tentang betapa tidak mudahnya menjadi orang yang terpilih.

Tidak mudah memang menjadi finalis PPS 2004. Pada awalnya mereka sudah diadang sebuah persaingan dengan ratusan peserta seleksi. Lolos menjadi salah satu dari 90 peserta, persaingan kembali harus mereka hadapi untuk menjadi salah satu finalis.

Setelah menjadi finalis, bukan berarti selesai semua. Justru persaingannya malah menjadi semakin berat. Sebab, penilaiannya akan lebih teliti dan saksama, mengingat semakin sedikit para peserta dan waktu lebih longgar.

Untuk itu, mereka pun benar-benar harus bisa menunjukkan kemampuan penguasaan barbagai unsur dari tiga materi (kebudayaan, pariwisata, dan kepribadian) dengan sebaik mungkin, mulai dari bahasa Jawa, etika dan adat busana Jawa, kepariwisataan, serta pengetahuan umum.

Jika tak ingin tertinggal dengan yang lain, para finalis memang harus mempersiapkan benar kemampuan dalam berbagai materi tersebut.

"Selain itu, mereka juga harus bisa memenuhi kriteria penilaian tentang brain, beauty, behavior atau kecerdasan, kecantikan dan tingkah laku," tandas Febry Hapsari.

Lantas siapakah yang akan menjadi terbaik dari para finalis itu. Pada bagian putra, apakah Marianto Sandra Tri Laksono, Harriston, Cucun Herdyanto, Aris Kurniawan, Ajie Wibisono, Andi Saputro, Heru Budi Rosadi, Nur Syaiful Annas, Alloysius Widhi Asmoro, Hubertus Adi Hardianto.

Sementara itu bagian putri, apakah Sofie Shinta Syarief, Mudita Maharani, Nuharani Kusumaningrum, Lintang Ayuninggar, Cristina Puspita Sari, Artika Rosari Putri, Yuanita Makmurachwati, Astri Resni Enggarsiwi, Yudhita Primasari, Pomi Novianti.

Yang jelas, seperti yang ditandaskan Plt Kepala Parsenibud Kota Surakarta Dra Febria Roekmi, siapa pun yang menjadi pemenang bukan sekadar bisa lenggak-lenggok di atas catwalk layaknya dalam pemilihan model. "Pemilihan PPS bukan sekadar itu. Namun bagaimana pemilihan ini bisa menghasilkan seorang putra atau putri yang berkeahlian dan berkemampuan menjadi duta pariwisata untuk mengangkat citra Solo," ungkapnya. (Wisnu Kisawa, Sri Wahjoedi-83j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA