logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 07 Agustus 2004 MURIA
Line

Menengok Alun-alun Pati (2-Habis)

Jadi Arena Kebut-kebutan

BICARA soal petugas parkir, selain ada yang resmi di bawah tanggung jawab pengurus Paguyuban Pedagang Kaki Lima juga muncul parkir liar. Karena itu, seorang pengurus takmir Masjid Besar Pati menyatakan protes keras ke Kantor Satpol PP karena area depan masjid menjadi ajang parkir liar untuk kendaraan pengunjung.

Akibatnya, jika ada pendatang yang sedang dalam perjalanan dan hendak menunaikan salat magrib atau isya, mencari lokasi parkir saja kesulitan. Lebih repot lagi bila Sabtu malam, pengunjung tidak hanya sekadar bermalam minggu sambil menikmati makanan yang dijajakan oleh penjual di warung tenda kaki lima.

Ternyata mereka itu menunggu munculnya acara kebut-kebutan. Dengan disaksikan para pengunjung, pengebut ''kelas teri'' itu pun merasa sudah menjadi pembalap motor kenamaan. Lucunya lagi, pengunjung pun seperti mendapat hiburan gratis. Dengan demikian, pertanyaan yang patut dikemukakan siapa saja adalah "Mengapa pengebut yang hanya berani memacu motornya di alun-alun, kok ditonton?"

Mencari jawab atas permasalahan yang muncul di ruang publik tersebut, jika ditelusuri awal mulanya adalah akibat gegap gempitanya seluruh denyut kehidupan di negeri ini yang lagi kesengsem reformasi salah kaprah. Alun-alun Simpanglima Pati pun kemudian dijadikan ajang kebebasan untuk mencari sumber kehidupan oleh kelompok sektor informal. Sebenarnya itu tidak salah sehingga pihak yang berkompeten dan penentu kebijakan Pemkab waktu itu berusaha untuk bersikap ramah.

Akibat ketidaksiapan anggota masyarakat mengubah pola pikir dalam mencerna makna reformasi, yang muncul adalah keamburadulan termasuk tidak nyamannya sebuah ruang publik.

Hindari Benturan Sosial

Menyadari akan hal itu, penentu kebijakan di Pati seperti Bupati Tasiman SH dan Wakil Bupati Drs Kotot Kusmanto serta pihak yang berkompeten mengelola dan mengatur sebuah ruang publik, yaitu Dinas Permukiman dan Prasarana, kini berencana menata kembali keberadaan PKL di alun-alun. Hal tersebut sekaligus sebagai upaya menghindari terjadinya benturan sosial.

Pasalnya, ujar Tasiman, di lingkungan Alun-alun Simpanglima tidak lama lagi akan berdiri sebuah pusat perbelanjaan Plasa Simpanglima yang dibangun pengembang. Karena itu, kini tengah dipersiapkan untuk mengalihkan para PKL.

Sehubungan dengan hal tersebut, pihaknya sudah bertemu dengan pengurus paguyuban. Dengan demikian, tawaran untuk mengalihkan mereka juga sudah diberikan dan ternyata tidak keberatan. Adapun lokasi pengalihan tetap tak beranjak dari lingkungan alun-alun tapi untuk menggelar dagangannya tidak boleh lagi di jalan. (Alman Eko Darmo-42j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA