| Sabtu, 07 Agustus 2004 | EKONOMI |
Tak Canggung Tawarkan Produk ke PedagangING ngarsa sung tuladha, adalah sesanti yang tepat untuk menggambarkan kepemimpinan Irwan Hidayat. Betapa tidak? Presiden Direktur PT Sidomuncul itu acap memberi contoh kepada bawahannya dalam bekerja. Untuk mempromosikan produk baru perusahaannya, dia rela turun ke pasar-pasar tradisional dan toko-toko secara langsung. Beberapa waktu lalu, bersama dua bintang iklan produk baru tersebut yakni Rieke Dyah Pitaloka dan Donny Kesuma, Irwan terlihat blusukan di pasar Karangayu dan Pedamaran Semarang. Lelaki berkacamata minus itu tak canggung menawarkan produk barunya kepada para pedagang di kedua pasar tersebut. Dia tidak berpenampilan laiknya bos yang mengenakan jas dan dasi, melainkan baju promosi. Langkah tersebut, menurut Irwan, penting untuk memberi contoh kepada para karyawan. Lebih penting lagi, untuk meyakinkan konsumen kalau dia memercayai produknya sendiri. "Bagaimana orang nggak percaya, kalau saya sendiri mau berbuat seperti itu. Saya yakin dengan apa yang saya lakukan. Sebagai seorang presiden, saya memosisikan diri menjadi lurah," ujar Irwan. Selain itu, untuk meningkatkan kepercayaan terhadap produk-produknya, Irwan juga rajin mempromosikannya ke luar negeri. Kendati hasilnya belum optimal, namun beberapa produk Sido Muncul telah berhasil menembus pasar beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Oman, Qatar, Bahrain, Kuwait, Emirat Arab, Saudi Arabia, dan Rusia. Kendati berstatus perusahaan keluarga, manajemen PT Sidomuncul tetap dilakukan secara profesional. Perusahaan yang didirikan pada 1951 itu, kata Irwan, tetap memberikan kesempatan kepada orang-orang di luar lingkar keluarga pemilik untuk menduduki posisi strategis. Memang, saat ini belum ada orang luar yang menduduki jabatan direksi, tapi ada di antara mereka yang menduduki jabatan pada level kedua. "Ini bukti, kami tidak main family-family-an. Yang penting dia mampu, loyal, dan jujur. Profesionalisme di sini tetap berjalan alami," tutur penggemar dangdut itu. Suami Maria Shinta Sujarwo (54) itu mengakui, mengelola perusahaan keluarga relatif lebih sulit dibanding perusahaan terbuka. (Rukardi-82) |