| Sabtu, 07 Agustus 2004 | EKONOMI |
Industri Peternakan Ayam Perlu DibenahiJAKARTA- Industri peternakan ayam perlu dibenahi agar produksinya bisa maksimal dan bersaing, di samping meningkatkan kesejahtaraan peternak ayam, dan menaikkan daya beli masyarakat. Ketua Umum Gabungan Perunggasan Indonesia (GAPPI) Anton Supit, di Jakarta, Jumat (6/8), mengatakan sampai saat ini industri peternakan ayam masih belum mendapat perhatian optimal dari pemerintah, sehingga industri peternakan ayam khususnya skala menengah dan kecil tidak tumbuh secara signifikan. "Industri peternakan ayam kecil yang banyak dikelola masyarakat seringkali memusuhi industri peternakan besar yang terintegrasi. Padahal seharusnya pemerintah memberi fasilitas kepada yang kecil agar mereka bisa menghasilkan produk yang bersaing," katanya. Diakui Anton, beternak ayam tidak mudah dan untuk menghasilkan produk yang bersaing harus memiliki skala ekonomis tertentu. Oleh karena itu untuk mencapai skala ekonomis tersebut pemerintah perlu memberi bantuan dan fasilitas kepada peternak kecil agar berkembang. "Yang (peternak) kecil difasilitasi pemerintah, misalnya mereka bergabung dengan peternak kecil lainnya atau dengan yang (industri peternakan ayam) besar dalam pengadaan pakan ternak yang sebagian besar masih impor," ujarnya. Sampai saat ini, lanjut Anton, komponen biaya produksi peternakan ayam yang terbesar atau sekitar 70% adalah pakan ternak, yang sebagian komponen utamanya adalah jagung dan 50% jagung tersebut masih diimpor, sehingga harga pakan ternak sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Secara Mandiri Menurut dia, bila peternak kecil melakukan usahanya secara mandiri maka sulit menghasilkan produk daging ayam maupun telur yang bersaing di pasar, karena skala ekonomisnya tidak tercapai. Padahal, lanjut dia, perkembangan industri peternak ayam skala kecil sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lebih banyak, di samping meningkatkan daya beli mereka. Dikatakan Anton, peningkatan daya beli masyarakat kelak akan mendorong pula peningkatan konsumsi daging ayam di Indonesia yang saat ini terbilang masih rendah hanya sekitar empat kilogram per kapita per tahun dibandingkan Malaysia yang sudah mencapai 35 kilogram per kapita per tahun. Lebih jauh ia mengatakan, untuk mendukung perkembangan industri peternakan ayam, pemerintah juga perlu mengoptimalkan upaya produksi bahan baku pakan ternak, khususnya jagung di dalam negeri. "Bahan baku pakan ternak yang dihasilkan dalam negeri selain lebih segar, tidak rentan terhadap kurs dolar, dan ada efek berantainya bagi peningkatan kesejahteraan petani jagung pula yang berarti ada peningkatan daya beli," katanya. Siap Pasok Menanggapi industri pengolahan daging sapi dan ayam yang mengaku kekurangan bahan baku daging, khususnya ayam, Anton mengatakan pada dasarnya industri peternakan ayam di dalam negeri masih sanggup memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri pengolahan daging. Menurut dia, dengan produksi nasional mencapai lebih dari satu miliar ayam, industri peternakan ayam di dalam negeri mampu memasok daging ayam ke industri pengolahan daging, karena konsumsi masyarakat akan daging ayam pun masih rendah. "Kami minta mereka (industri pengolahan daging) membahas hal itu bersama kami untuk mendapatkan titik temunya. Karena memang harga daging ayam lokal saat ini tengah meningkat seiring dengan naiknya harga jagung dan nilai tukar rupiah," ujarnya. (ant-82) |