logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 07 Agustus 2004 EKONOMI
Line

Kenaikan Cukai Rokok Dinilai sebagai Paksaan

SOLO- Pungutan cukai rokok yang selama tiga tahun terakhir terus menerus mengalami kenaikan, merupakan kebijaksanaan yang dipaksakan. Hal tersebut dikatakan Marketing Manager Pabrik Rokok Djitoe Solo, H Bedmanto kemarin. Dikatakan, kenaikan cukai rokok terjadi sejak tahun 2000 hingga 2003.

Pada Tahun 2000, cukai Rokok Djitoe per batang naik tiga kali. Setiap kenaikan Rp 25 per batang. Tahun 2001 kenaikan terjadi lagi, sekali naik langsung Rp 75 per batang. Tahun 2002 dan 2003, kenaikan terjadi sama dengan tahun 2001 masing-masing Rp 75 per batang.

Dengan kenaikan itu, maka seharusnya harga rokok Djitoe termurah Rp 2.500 per bungkus isi 10 batang (sigaret kretek tangan/SKT), dan termahal Rp 3.900 per bungkus isi 12 batang (sigaret kretek mesin/SKM). Namun karena lemahnya daya beli, produksi rokok dijual di bawah harga bandrol. Yang Rp 2.500 dijual Rp 1.400 dan yang Rp 3.900 dijual Rp 2.250.

"Dengan harga itu pun kami tak bisa menjual banyak, karena daya beli melemah. Stok di gudang menumpuk. Penurunan jumlah penjualan ada sampai 60 persen, "kata dia tanpa menyebut secara rinci angka riilnya. Terhadap kenaikan cukai rokok yang menurut dia tidak objektif, seharusnya Gappri protes pada pemerintah.

"Ternyata Gappri jirih (penakut-Red), tidak berani protes. Saya telah protes sendiri dan ternyata ada hasilnya. Pertengahan 2004 sebenarnya cukai akan dinaikkan lagi, tapi setelah saya protes, kenaikan tidak terjadi," katanya.

Dengan kenaikan cukai itu, maka rokok yang bandrolnya Rp 2.500 terkena pajak 16%, sedangkan yang harga Rp 3.900 terkena pajak 34,4% (terdiri atas cukai 26% dan ppn 8,4%). "Meskipun sesuai bandrol harga Rp 3.900 dan kenyataannya kami hanya bisa menjual Rp 2.250, tapi cukai yang harus dibayar, hitungannya tetap dari Rp 3.900. Ini kan kacau," katanya.

Akibat menumpuknya rokok di gudang, selama beberapa bulan terakhir perusahaan rokok ini mengurangi secara drastis jumlah produksi. Hal itu langsung berdampak pada pengurangan tenaga kerja. Selama tiga tahun terakhir pengurangan tenaga kerja mencapai 700 orang. "Sebelumnya kami mempekerjakan 1.300 orang, sekarang hanya sekitar 600 orang," kata Bedmanto. (bt-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA