logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 07 Agustus 2004 EKONOMI
Line

Rupiah Kembali Tertekan

JAKARTA- Setelah sempat menguat rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan. Penutupan perdagangan pada akhir pekan ini, yakni Jumat (6/8) petang, rupiah tertekan 15 poin menjadi Rp 9.190/dolar AS. Sementara sehari sebelumnya ada di level Rp 9.175/dolar AS. IHSG di Bursa Efek Jakarta juga anjlok 0,079 poin berada di posisi 753,932.

Semua indeks di BEJ juga mengalami penurunan. Indeks LQ45, misalnya, turun 1,973 poin menjadi 163,902. Jakarta Islamic Index (JII) turun 1,635 di pisisi 125,259. Indeks Papan Utama (MBX) turun 2,178 menjadi 202,661. Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 1,857 di level 532,654. Ada 23 saham yang harganya naik, 105 saham turun harganya, dan 252 stagnan.

Seorang dealer bank swasta, di Jakarta, mengatakan aktivitas perdagangan valuta asing pada sesi pagi masih lesu, perputaran kedua mata uang itu juga belum besar, namun terlihat kecenderungan pasar tertuju pada rupiah. Penyebabnya karena menguatnya harga minyak dunia yang mencapai di atas 44 dolar AS per barel. Kondisi ini menekan dolar AS dan bursa saham.

Menurut dia, kondisi dalam negeri yang kurang mendukung merupakan faktor utama mengakibatkan rupiah sulit bergerak naik lebih jauh, apalagi Bank Indonesia masih mempertahankan kebijakan suku bunga SBI yang stabil. Sementara hampir semua bursa di Asia indeksnya menurun, sehingga ikut mempengaruhi perdagangan saham di Indonesia.

"Kebijakan BI dalam upaya menyerap likuiditas dan mempertahankan tingkat suku bunga kredit, sehingga debitor dapat membayar kredit. Perbankan tetap akan menyalurkan kredit, namun saat ini bersikap hati-hati agar kredit bermasalah tidak meningkat," katanya.

Rupiah menjelang akhir pekan masih sulit untuk bergerak naik, karena pasar sulit memberikan sentimen positif terutama dari internal, apalagi setelah adanya laporan bahwa inflasi Juli meningkat tajam sehingga sepanjang tahun bisa melewati inflasi yang ditargetkan pemerintah.

Normal

Sementara itu Direktur Direktorat Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Budi Mulya, menyatakan kenaikan tingkat bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebesar satu sampai dengan lima basis poin (0,1%-0,5%) merupakan sesuatu yang normal. Karena itu kalangan perbankan tidak perlu menafsirkan sebagai isyarat untuk menaikkan suku bunga bank.

"Pasar harus melihat kepentingan bank sentral (BI) mempertahankan kestabilan suku bunga yang tercermin dari hasil lelang SBI kemarin. Sinyal kebijakan yang cenderung ketat kembali ditegaskan BI dari hasil lelang SBI. Target lelang Rp 61,2 triliun, sedangkan hasil lelang Rp 63,4 triliun," kata Budi.

Menanggapi hal itu Direktur Kredit PT Bank Internasional Indonesia (BII) Tbk, Dira K Mochtar, mengatakan kalangan perbankan belum menaikkan tingkat suku bunga, meskipun indikasi naiknya suku bunga SBI telah terasa.

"Kami belum melakukan perubahan apa-apa terhadap suku bunga. Kalaupun ada kenaikan suku bunga dilakukan karena ada sistem tiering, di mana tingkat bunga ditentukan berdasarkan skala risiko." (wa-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA