logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Agustus 2004 SALA
Line

"Mengapa Harga Pupuk Sangat Tinggi?"

  • Tak Mampu Menebus DO

SUKOHARJO - Sejumlah petani di Mojolaban mengeluhkan kenaikan harga pupuk. Bila biasanya harga pupuk Rp 51.000/sak isi 50 kg, kini meningkat menjadi Rp 55.000-Rp 56.000/sak. ''Saya heran mengapa harganya bisa meningkat setajam itu?'' ujar seorang petani, Warto (56).

Dia menjelaskan, kenaikan harga selalu terjadi pada saat musim tanam tiba. Namun, kenaikan kali ini dikeluhkan petani karena sangat tinggi.

''Biasanya hanya naik sedikit, berkisar Rp 1.000-Rp 2.000/sak. Namun, mengapa kali ini kok naik sangat tinggi. Bayangkan, uang Rp 5.000 bagi petani sangat besar, apalagi sekarang bersamaan dengan tahun pelajaran baru sekolah.''

Menanggapi keluhan petani itu, Kadinas Pertanian Pemkab Sukoharjo Ir Sri Sutarni menjamin tercukupinya kebutuhan pupuk petani. Kini masih tersedia 2.000 ton pupuk di gudang pupuk Nguter. Jumlah tersebut jauh di atas batas stok aman 300 ton dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 1.050/kg. ''Kalau memang ada kelangkaan, saya akan mengajukan permintaan operasi pasar,'' katanya.

Dia menjelaskan, operasi pasar pupuk tidak sama dengan operasi beras dan gula yang langsung didrop ke pasar.

Operasi pasar pupuk dilakukan dengan cara distributor menebus ke gudang. Selanjutnya, pemilik kios atau penyalur mengambil jatah ke distributor. Pada saat penebusan pupuk, distributor biasanya masih mempunyai jatah untuk penyaluran sendiri. ''Sebenarnya pupuk tidak kosong, hanya mereka tak mampu menebus delivery order (DO). Akibatnya, harga pupuk melejit, ini yang biasanya terjadi.''

Permainan

Soal apakah ada permainan distributor, Sutarni mengaku tidak tahu. Namun, pihaknya terus berupaya memotong mata rantai distribusi pupuk dengan melakukan pemantauan rutin. "Kini harga sudah kembali ke kisaran Rp 1.050/kg, sehingga saya berkonsentrasi kepada hal yang lain. Namun, ternyata muncul kasus di Mojolaban. Namun, kasus itu sudah saya selesaikan dengan Pusri dan selisih harga pun sudah dikembalikan.''

Dalam pemantauan, lanjut dia, pihaknya juga menegur Koperasi Kelompok Tani (KKT) Ngudi Rejeki karena membawa pupuk keluar Sukoharjo. Alasannya, Ngudi Rejeki mempunyai petani binaan di wilayah Tasikmadu dan Grobogan. ''Kalau target pengadaan pupuk di sini dibawa keluar, ya saya peringatkan. Sebab, ini bisa memicu kekurangan pupuk.''

Dalam waktu dekat, Dipertan berencana mengumpulkan para distributor pupuk. ''Jangan sampai terjadi kekosongan seperti yang pernah terjadi. Sebab kalau ada kekosongan, secara spontan harga pupuk akan naik. Kalau terjadi begitu, yang kasihan para petani.'' (G10-20e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA