| Rabu, 04 Agustus 2004 | SALA |
Mengais Rezeki Jelang HUT KemerdekaanMASA-MASA menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus mendatang dimanfaatkan sejumlah pedagang untuk mengais rezeki. Mereka menjual bendera Merah Putih dan umbul-umbul di pinggir jalan yang dianggap strategis. Hal itu seperti yang dilakukan Sugiyanto (45), warga Nggowok, Jatipuro, Karanganyar, yang menggelar dagangan di Jalan Jenderal Sudirman, tepatnya di selatan Pasar Sukoharjo. Puluhan bendera dan atribut HUT Kemerdekaan RI dipajang mencolok di pinggir jalan dengan seutas tali. Selain bendera, dia juga menjual umbul-umbul dan bendera plastik. Harganya bervariasi Rp 8.000-Rp 25.000 bergantung pada ukurannya. ''Lumayan, Mas. Tadi laku dua bendera dan sebuah umbul-umbul,'' ujar Sugiyanto. Dia mengaku menjual bendera itu sebagai pekerjaan sambilan menjelang 17 Agustus. Selama ini ayah tiga anak itu merantau ke Tasikmalaya berjualan bakso. ''Namun, menjelang HUT RI saya pulang untuk berjualan bendera. Hal ini sekaligus mengajari anak saya mandiri setelah lulus SMP. Maklum Mas, saya tidak punya biaya untuk membayar anak melanjutkan sekolah.'' Dia menuturkan, barang dagangan diambil dari temannya di Solo dengan sistem komisi. Dia mengambil barang dan setelah selesai berjualan baru disetorkan. Barang yang tidak terjual dikembalikan dan dia mendapatkan komisi atas barang yang terjual. Selain itu, penjual juga mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual. ''Belum bisa menghitung, Mas. Saya kan baru dua hari berjualan. Nanti setelah 17 Agustus mendatang baru bisa dihitung.'' Namun, dia mengaku keuntungan bukan tujuan utamanya. Yang lebih penting adalah mengajari anak sulungnya, Tomas Agus S (14), untuk mandiri. Pasalnya, dia tak mempunyai biaya untuk menyekolahkan Tomas ke tingkat yang lebih tinggi. Daripada menganggur, anaknya itu diajak berjualan bendera agar merasakan bagaimana mencari uang. ''Sebenarnya saya kasihan, baru lulus SMP kok diajak mencari uang. Namun bagaimana lagi, kami tak punya biaya. Apalagi di rumah saya masih punya tanggungan dua anak. Seorang di SMP dan seorang di TK.'' Apa pendapat Tomas? Dia mengaku rela tidak melanjutkan sekolah. Semula dirinya ingin melanjutkan ke SMK Jurusan Mesin agar kelak bisa bekerja di perusahaan besar atau di bengkel. Namun, mengingat kemampuan orang tuanya, dia harus mengubur keinginan tersebut dalam-dalam. ''Kasihan Bapak, biarlah adik saya yang kebagian biaya agar lulus SMP nanti.'' Ditanya apakah akan tetap berjualan di pinggir jalan selamanya, Tomas hanya menundukkan kepala. ''Saya anak orang tidak punya, mau bagaimana lagi? Saya akan merantau ke Jakarta atau Bandung berjualan bakso. Berjualan bendera saat ini bisa saya jadikan pengalaman mencari uang. Ternyata mencari rezeki itu cukup sulit,'' ujarnya lirih. (Joko Murdowo-80e) |