logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Agustus 2004 SALA
Line

Serat Centhini, Karya Agung Ratusan Tahun Lalu

JIKA hanya menyebut Suluk Tembanglaras, mungkin masih banyak yang belum mengerti, bahkan tidak tahu sama sekali. Namun jika menyebutnya dengan kitab atau Serat Senthini, mungkin akan orang lebih mudah mengenalinya.

Sebab meski Suluk Tembanglaras adalah nama yang sebenarnya, tak bisa dipungkiri orang lebih mengenal Serat Centhini.

Namun, apa pun namanya, toh itu tak mengurangi keagungan serat tersebut. Hingga kini serat terdiri atas 12 jilid dan memiliki tebal sekitar 6.000 halaman itu tetap dianggap sebagai sebuah karya besar dalam kesusastraan Jawa baru.

Lantas, kapan serat itu diciptakan? Dalam pengantar buku Ringkasan Centhini (Suluk Tembanglaras) karya kerabat Pura Mangkunegaran, RMA Suhatmaka disebutkan, Centhini digubah atas kehendak Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, putra Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (ISKS) Paku Buwono (PB) IV yang kemudian bergelar ISKS PB V.

"Sangkala Kitab Centhini, yang nama lengkapnya kitab Suluk Tembanglaras berbunyi, Paksa Suci Sabda Ji (tahun 1742), masih dalam masa bertahtanya ISKS PB IV atau enam tahun menjelang penobatan ISKS PB V."

Kitab Jatiswara

Dalam buku tersebut dijelaskan, serat yang bersumber dari Kitab Jatiswara (tanpa diketahui pengarangnya) itu dimaksudkan untuk menghimpun segala macam pengetahuan lahir-batin Jawa agar tidak hilang atau punah. Termasuk, keyakinan terhadap agama.

Adapun yang bertugas menyusun kitab itu adalah tiga pujangga kenamaan masa itu, yakni Kyai Ngabehi Ranggasutrasna yang bertugas menghimpun pengetahuan lahir-batin di wilayah Jawa bagian timur, Kyai Ngabehi Yasadipura II untuk Jawa bagian barat, dan Kyai Ngabehi Sastradipura bertugas menunaikan ibadah haji untuk menyempurnakan pengetahuan tentang Islam.

Membaca apalagi mendalami benar tentang isi dari serat tersebut bukan pekerjaan mudah.

Sebab materinya banyak sehingga memerlukan banyak waktu. Bahkan sampai bertahun-tahun untuk dapat meresapi dan mendalami isi 12 jilid Centhini.

Barangkali itulah sebab kini bermunculan ringkasan-ringkasan serat tersebut dalam bentuk terjemahan agar lebih mempermudah membacanya. Salah satunya buku karya Suhatmaka tersebut.(Wisnu Kisawa-17i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA