| Rabu, 04 Agustus 2004 | SALA |
Air Sumur Warga Tak Terpengaruh
BANJARSARI - Meskipun air Kali Anyar ditengarai tercemar logam berat, yakni timbal atau Pb (plumbum), warga penghuni bantaran sungai tersebut mengaku tidak ada masalah dengan air sumur yang mereka konsumsi sehari-hari. Mereka tenang-tenang saja mengonsumsi air tanah itu untuk keperluan sehari-hari mulai mencuci sampai minum. Kualitas air yang sebagian besar didapat dari sumur pantek itu tidak berubah meskipun berada di dalam badan sungai. "Tidak ada masalah dengan air yang kami konsumsi tiap hari. Airnya masih bening. Dari dulu kami juga mengonsumsi air tersebut dan tidak ada keluhan kesehatan apa-apa," ujar Imam, seorang warga Kampung Gondang, Manahan yang diiyakan beberapa warga yang menemui Suara Merdeka, kemarin. Seperti diwartakan, bahaya timbal (Pb/Plumbum) mengancam Kota Solo. Pencemaran yang antara lain ditimbulkan oleh emisi gas buang berbagai kendaraan itu tak hanya mengakibatkan polusi udara, tetapi juga air. Kandungan timbal di perairan di kawasan Terminal Induk Tirtonadi misalnya, ditengarai sudah cukup tinggi (SM, 2/8). Beberapa warga yang ditemui mengemukakan, air dari sumur mereka bening, tidak berbau, dan tidak berasa, sehingga menurut mereka air itu layak dikonsumsi. "Airnya tidak ada tanda-tanda tercemar. Kami yang menggunakannya untuk mandi, minum, dan mencuci tidak menemui masalah. Kalau benar-benar tercemar pasti menimbulkan gatal-gatal atau bau dan warnanya terlihat. Namun, di sini tidak begitu," jelas Imam. Dimasak Matang Warga lain, Ny Sardi menambahkan, sumur mereka tidak terpengaruh oleh kondisi air Kali Anyar. Seandainya benar-benar tercemar logam berat, air sungai itu tidak akan memengaruhi kualitas air sumur mereka. Sebab, sumur pantek yang dibuat mayoritas warga berkedalaman lebih dari 20 meter. Perempuan bercucu satu itu menuturkan, setiap hari sekitar 100 warga penghuni lokasi tersebut memperoleh air dari sumur tanah. Mereka mengaku tidak mendapati masalah yang berarti. Paling-paling pengaruhnya hanya debit air yang banyak berkurang pada saat kemarau. Imam mengakui, kabar pencemaran logam berat di Teluk Buyat, Minahasa, yang menimbulkan penyakit minamata membuat warga sedikit khawatir perairan di dekat mereka juga tercemari limbah yang sama. Namun, setelah melihat tak ada perubahan kualitas air, mereka tenang-tenang saja. "Asalkan dimasak matang ya tidak apa-apa. Saya sudah enam tahun tinggal di sini dan tidak ada masalah dengan air sumurnya," ungkap Ny Sardi. Adapun soal bahaya pencemaran logam berat, Ny Ngesti mengatakan, bisa saja sungai yang kini asat tersebut tercemar. Namun, asalkan warga tak mengonsumsi air dari sungai, dia yakin hal itu tak bermasalah. (G18-17e) |