| Rabu, 04 Agustus 2004 | PANTURA |
Debit Bendung Kedungdowo Menyusut
BATANG- Meskipun pasokan air masih mencukupi untuk keperluan irigasi sawah, petani diimbau untuk menepati pola padi-padi-palaowija memasuki musim tanam (MT) III. Hal itu, dilakukan untuk memotong rantai siklus perkembangan hama. Selama ini, masih sering dijumpai memasuki MT III banyak yang menanam padi. "Ini sangat riskan. Meskipun pasokan air masih ada, namun tidak sebanyak pada MT I dan MT II. Jangan menerapkan pola padi-padi-pantun (padi). Sebaiknya pakai pola padi-padi-palawija untuk memberi kesuburan pada sawah," ujar Kasubdin Pengairan DPU Kabupaten Batang Ir Harsoyo SP I. Memasuki musim kemarau Agustus ini, menurut dia, keperluan air untuk irigasi masih terjamin. Apalagi, di daerah atas hujan masih sering turun sehingga menambah pasokan air, khusunya di bendung-bendung. Di Kabupaten Batang ada tiga bendung besar untuk keperluan irigasi, yaitu Bendung Kedungdowo (Kramat) di Kali Lojahan, Kecamatan Batang, dan Kecamatan Tulis. Bendung Kosar di Kali Kupang, Kecamatan Warungasem yang mengairi sawah di wilayah Kecamatan Warungasem dan Kecamatan Batang sebelah barat. Dan Bendung Kenconorejo, di Kedungsegog yang membendung Kali Boyo untuk mengairi sawah di Kecamatan Tulis. 1.429 Liter/Detik "Khusus debit air di Bendung Kedungdowo, Kramat yang disalurkan melalui saluran irigasi Sambong, sekarang memang turun dari 1.700 liter per detik menjadi 1.429 liter per detik. Namun, kondisi itu masih tetap aman, apalagi didukung kiriman air dari daerah atas yang masih sering turun hujan," ujar alumnus S2 Teknik Irigasi ITB itu. Apabila sampai terjadi kekurangan air, pihaknya akan menerapkan fakto K, yaitu membagi air secara bergiliran. Penerapan fakto K itu, apabila kebutuhan air 100 liter per detik hanya memiliki kapasitas 0,80 (80 liter per detik). "Namun, kondisi sekarang air masih tetap aman. Jadi, belum akan diterapkan fakto K, karena kondisi debit air masih 0,90 sehingga masih aman, terlebih jika daerah atas masih diguyur hujan pada MT III." Beberapa petani di Tulis selama ini menerapkan pola padi-padi-pantun. Hal itu karena melihat pasokan air yang selalu melimpah. Bahkan, pada saat musim kemarau panjang 2002, masih bisa menanam padi. "Kami sudah biasa menanam padi selama tiga musim tanam. Pertimbangannya, air dari saluran irigasi Sambong ini selalu mengalir. Bahkan di saat musim kemarau panjang kami masih menanam padi," tutur Dasmui. Selain itu, apabila menerapkan pola padi-padi-palawija hasilnya tak sebanyak padi. Bahkan, belum tentu merasakan panen. (ar-14r) |