| Rabu, 04 Agustus 2004 | PANTURA |
Putus Sekolah Terkait KulturPREDIKSI Dinas Pendidikan Nasional (Diknas) Kabupaten Tegal soal jumlah siswa putus sekolah dari tingkat SLTP ke SLTA yang mencapai belasan ribu, tentu tidak bisa dikaitkan begitu saja dengan keterbatasan daya tampung sekolah. Melainkan, terkait pula dengan pola pikir masyarakat pedesaan yang telah menjadi kultur (budaya). Demikian juga terhadap fakta anak sekolah yang dropout (DO). Tidak bisa digeneralisasikan anak tersebut karena tidak mampu mengikuti pelajaran secara wajar atau tersangkut kasus, sehingga dikeluarkan dari sekolah. Atau sering diistilahkan dengan bahasa "dikembalikan ke orang tua". Anak yang terkena DO, kata Drs AK Halim MM, Kepala Diknas Kabupaten Tegal bisa juga karena faktor kondisi perekonomian orang tuanya. Karena, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari sangat terbatas, sehingga tidak mampu membiayai anaknya sampai selesai. Sebagai misal, siswa SD kelas tiga. Tiba-tiba keluar lantaran tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah. "Ya daripada repot-repot sekolah, lebih baik bantu bapak mencangkul di sawah. Atau jadi buruh bongkar muat di pasar," tutur AK Halim, menirukan alasan yang sering mencuat dari orang tua, yang anaknya terpaksa tidak bisa meneruskan pendidikan dan akhirnya keluar sekolah. Dia mengatakan, alasan-alasan seperti itu memang sulit dihilangkan dari sebagian orang tua murid yang hidup di pedesaan. Mereka belum menganggap pendidikan sebagai suatu faktor penting. Pendidikan diyakini tidak dapat melahirkan perubahan, tapi menjadi beban yang sulit dihilangkan. Tidak Menyalahkan Terhadap pola pikir seperti itu, pihaknya yang paling bertanggung jawab terhadap kemajuan pendidikan di daerahnya, tidak bisa serta merta menyalahkan. Karena, kondisi yang demikian terkait pula dengan beberapa faktor yang mempengaruhi. Yakni, keterbelakangan dan ekonomi. Karena itu, salah satu langkah yang dikedepankan adalah menciptakan pendidikan murah dengan tetap menomorsatukan sisi kualitas. Anak-anak di desa sebagai generasi penerus bangsa diharapkan tetap dapat menikmati pendidikan yang layak agar dapat tercipta perubahan. Perubahan tersebut diharapkan akan mengikis pola pikir yang menyesatkan, bahwa pendidikan sebenarnya dapat mengubah nasib seseorang atau kehidupan bangsa. "Ini yang terus kita pacu, agar ada kemajuan dalam pola pikirnya," tutur dia. Mereka yang putus sekolah karena tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan SLTP dapat mengikuti pendidikan Kejar Paket B. Demikian dari SLTP ke SLTA dapat mengikuti pendidikan Kejar Paket A. Dengan melihat proses perubahan pola pikir yang berkembang positif secara perlahan, dia sangat optimis akan berdampak pula terhadap pola pikir yang kurang baik bagi sebagian kalangan orang tua di pedesaan. Mereka diharapkan secara perlahan pula dapat memahami, betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan anak dan keluarga. "Tapi, ini bukan pekerjaan mudah. Butuh dukungan dari semua pihak," tandas dia.(Ri yono Toepra-42) |