logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Agustus 2004 WACANA
Line

Surat Pembaca

Peduli Perpustakaan SDN Penawangan I

Surat ini saya tujukan kepada alumni SDN Penawangan I Grobogan khususnya dan masyarakat/instansi/perusahaan yang peduli terhadap perpustakaan. Saya pengelola perpustakaan SD Negeri Penawangan I, yang kini memiliki 3603 buku.

Terdiri dari buku pelajaran 2599 eksemplar dengan 393 judul dan buku cerita/komik/keterampilan 1004 eksemplar dengan 499 judul. Saya melayani peminjaman kepada siswa dan masyarakat sekitar perpustakaan. Keterbatasan koleksi buku tersebut menjadi kendala utama.

Koleksi buku tidak sebanding dengan jumlah pembaca, sehinga banyak yang kecewa karena tidak menemukan buku baru atau judul buku yang diinginkan. Lewat Surat Pembaca ini, saya mengetuk hati alumni dan masyarakat untuk memberi bantuan buku/bahan pustaka lain atau dalam bentuk lain.

Buku-buku yang sudah dibaca atau sudah tidak dimanfaatkan oleh Bapak/lbu/Sdr tetapi masih dapat dimanfaatkan oleh siswa-siswi SD dapat dikirimkan ke saya.

Purwanti (pengelola)
Jl Raya Penawangan 7, Grobogan

***

Minat Baca dan Belenggu Senioritas Sastra

Membaca Surat Pembaca tulisan Bapak Joko Suprayoga, Kendal tentang menurunnya minat baca. Saya senang mengutip: Alasan 'kesibukan' sungguh merupakan kebohongan demi menutup rasa malas saja. Coba amati, betapa banyak waktu sia-sia untuk ngrumpi, ngobrol, nonton TV, ngelamun, berkhayal dan tidur.

Dalam beberapa hal, keadaan memang itu mengkhawatirkan, bahkan saya pun merasakan ketika mengamati aktivitas orang-orang di sebuah kafe di Mal. Ketika itu saya membawa buku untuk dibaca dan orang-orang tampak melihat ke saya dengan pandangan aneh. Namun, dasar saya, saya tetap saja membaca atau kadang malah menulis sesuatu di kafe.

Lantas apa relevansi antara minat baca dengan senioritas dalam sastra yang saya beri label belenggu? Dalam buku, "Tuhan telepon aku dong," saya membaca kalimat-kalimat berikut: Dalam realitas kesusastraan Indonesia menampilkan sosok yang masih muda merupakan hal yang tidak mudah, diakui atau tidak dunia sastra kita adalah dunia kemapanan serta kentalnya senioritas, artinya bangsa kita tidak semena-mena menerima sesuatu dari orang yang memang belum populer meskipun membawa pencerahan. Namun akan ... Demikian bangsa kita adalah bangsa tokoh bukan ide.

Melihat semua ini, saya sangat prihatin ketika memasuki hampir dua puluhan perusahaan untuk menawarkan kerjasama penerbitan sebuah buku: ekspressi jang terpoetoes berjudul : Si gila alias orang gila alias wong edan alias akoe dalam poetry.

Genaplah tuduhan penerbit tersebut, bahwa bangsa kita adalah bangsa yang melihat nama besar seseorang bahkan tanpa melihat apa-apa yang mungkin dibawakan oleh seorang yang (tidak atau belum begitu) dikenal di bidang penulisan. Walaupun secara sosial telah kenal dengan beberapa orang dalam perusahaan itu.

Saya, hanya hendak menyampaikan harapan agar upaya memutuskan rantai belenggu senioritas dalam sastra ini mendapat sambutan dengan meningkatnya minat baca di kalangan khalayak kita. Amin.

Natanael Prasetyono
Kebonharjo Rt 5/ Rw 8, Semarang
08179555198

***

Menyepelekan Tamu

Tanggal 19 Juli 2004 saya datang ke Universitas Negeri Semarang (Unnes) untuk pendaftaran program studi tertentu tetapi telah ditutup. Saya menemui Purek I yang memberi disposisi ke kepala TU, isinya agar dibantu pendaftaran jika tidak merepotkan. Beliau menyarankan untuk memberikan disposisi tersebut kepada seorang pejabat di Unnes.

Setelah membaca disposisi, pejabat tersebut menyatakan pendaftaran sudah habis. Tiada lama datang tamu lain yang dipersilakan duduk dan mereka berdua berngobrolria. Setelah hampir 10 menit merasa tidak di- uwongke saya keluar ruangan,

Setelah lama menunggu, saya masuk lagi dan pejabat tersebut melihat kembali disposisi dan mengatakan tetap tidak bisa. Posisi hukumnya, saya selaku masyarakat yang memiliki hak untuk rnendapatkan pelayanan yang baik dari pejabat publik menjadi terabaikan.

Pejabat tersebut secara sengaja membiarkan tamu lain masuk padahal belum menyelesaikan hal yang muncul saat itu. Seharusnya paham, dia pejabat publik yang diangkat universitas untuk memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Tidak sebaliknya penyepelekan/mengenyampingkan hal yang sedang dibicarakan.

Saya kecewa, jika saat itu juga dapat diselesaikan tidak perlu menunggu lama. Kalau dihitung berapa kerugian material dan imaterial saja yang hilang. Sebagai orang yang ikut membayar pajak kepada negara mohon Rektor melakukan pembinaan kepada pejabat tersebut.

Hafid Zakariya SH
Jl Dewi Sartika 59, Sukorejo, Semarang

***

Tanggapan Dinas Peternakan

Menanggapi tulisan Sdr Soediono SE Karangsentul Rt 3/ Rw 2 Padamara dalam Surat Pembaca 2 Agustus 2004 yang berjudul "Kepada Ka Dinas Peternakan Jateng" dapatlah kami tambahkan penjelasan sebagai berikut :

Seekor sapi menghasilkan kotoran sebesar 4 ton/ th. Apabila peternak memelihara sapi sebanyak 7 ekor (skala ekonomis) maka jumlah kotoran yang dihasilkan sebanyak 28 ton/th. Pupuk olahan yang bermutu tinggi diperkirakan dapat mencapai harga Rp 250/ kg.

Dengan demikian peternak akan mendapatkan tambahan penghasilan kotor dari hasil pengolahan pupuk sebesar Rp 7 juta /th. Hitungan Rp 7,3 juta/th didapatkan dari hasil hitungan secara kelompok karena bervariasinya kepemilikan ternak.

Ka Dinas Peternakan Jateng Propinsi Jawa Tengah
Drh. H. Sugiyono Pranoto

***

Pemilihan Kepala Daerah Cukup Sekali Putaran

Belum tuntas pilpres putaran kedua tahun 2004, sudah kedengaran bahwa pemilihan kepala daerah pola pelaksanaannya dilakukan seperti pilpres yang kini masih berlangsung. Menurut saya, pemilihan kepala daerah seyogyanya cukup sekali putaran dengan alasan:

Pemilih relatif sedikit, daerah pemilihan cukup terawasi oleh Panwasda. Juga menghindarkan konflik internal, cepat, hemat dan akurat serta murah meriah serta tidak bertele-tele. Dengan demikian siapa pun yang terpilih oleh rakyat langsung menduduki kursi sebagai gubernur yaitu figur kepanjangan tangan RI 1 yang diatur dalam UU No 22 tentang Otonomi Daerah.

Sekadar mengingatkan, apa tidak sebaiknya KPU belajar dari pengalaman. Rakyat sih manut-manut saja, tetapi anak bangsa yang jumlahnya 240 juta kini mulai pintar berpolitik sehingga per!u ditunjang dengan sistern serta mekanisme pilihan kepala daerah yang bagus dan transparan. Pro dan kontra boleh-boleh saja, wong negara kita demokrasi.

Drs JP Arisnosusatyo
Cempaka Baru Timur Rt 13/Rw 6 Kompleks Anggar Jakpus

***

Hotel di Curugsewu

Bupati Kendal H Hendi Boedoro SH MSi sangat memperhatikan dunia pariwisata. Terbukti banyaknya turis asing yang masuk dan terciptanya beberapa rekor Muri sebagai promosi efektif bagi daerah tersebut. Selama ini jika ada tamu pejabat atau turis asing, hampir dipastikan menginap di Semarang.

Alangkah baiknya jika di lahan sekitar Curugsewu Patean Sukorejo Kendal dibangun hotel sekelas Melati atau vila sederhana. Bisa juga wisma Pemkab direnovasi agar dapat digunakan untuk acara semacam bintek, adum atau konferensi.

Pembangunan hotel jangan diidentikan dengan mesum. Adalah bijak jika kita berpandangan positif bahwa hotel memacu masyarakat memberdayakan diri dengan menyediakan jasa seperti pemandu wisata, warung makan, penjualan suvenir. Bahkan untuk Curugsewu, sangat potensial bagi pengembangan petani bunga tetutama anggrek dan mawar.

Jika Pak Bupati dan staf bersedia membangun hotel di arena Curugsewu, maka jet coaster dan ular phyton terbesar di Asia Tenggara akan tersenyum karena setiap hari dikunjungi wisatawan. Dan tentu reputasi bupati sebagai pioner pariwisata akan dikenang masyarakat Kendal.

Aryo Widiyanto AMd
Jl Sri Agung 234, Cepiring


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA