logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Agustus 2004 NASIONAL
Line

Kasus Bocah SD Bunuh Diri

Polsek Lupa Lapor ke Mapolres


MENGHITUNG UANG: Ardadia dan Agus didampingi Kepala SD Karangtengah Danuri SPd serta guru menghitung uang recehan dari para siswa.(79t) - SM/Saiful Bachri

PEMALANG-Kasus dugaan bunuh diri Yudianto (12), siswa SDN 1 Karangtengah, Kecamatan Ampelgading, Pemalang, Sabtu pekan lalu, hingga kemarin masih diusut Reskrim Polres Pemalang. Kasus itu baru dilaporkan ke Mapolres Selasa (3/8), setelah diberitakan di media massa.

Kapolres AKBP Drs Moechgiyarto lewat Kasat Reskrim AKP Suwandi mengatakan, baru menerima laporan kasus itu dari Polsek Ampelgading. Setelah menerima laporan, dia menugaskan anggotanya untuk memeriksa kembali para saksi, termasuk kedua orang tua korban. ''Polsek tidak segera melaporkan ke Mapolres, karena lupa. Kasus itu sebenarnya sudah diperiksa di Mapolsek. Tapi untuk menguatkan data-data, kami memeriksa ulang para saksi,'' katanya, kemarin.

Mengenai dugaan ada unsur lain dalam kematian korban, menurut dia, tidak ada.

Kesimpulan sementara, korban mati bunuh diri. Itu diduga karena kecewa setelah dimarahi ibunya, Ny Karsiah (35). Sedangkan ayah korban, Sumarto, saat kejadian masih di sawah.

Seperti diberitakan sebelumnya (Suara Merdeka, 3/8), Yudiyanto ditemukan kakaknya, Eti Wijayanti (14), tewas dengan posisi menggantung di atas ranjang ibunya. Lehernya terjerat ikat pinggang yang biasa dipakai korban. Saat itu korban dinyatakan meninggal akibat bunuh diri. Kematian korban membuat warga setempat kaget, karena selain dikenal memiliki wajah ganteng, pembawaan sehari-harinya pendiam. Selain itu, dia anak yang patuh terhadap orang tua dan rajin mengaji di TPQ. Banyak warga yang seolah-olah tak percaya korban mati bunuh diri.

Kades Karangtengah Agus Tri Spd mengatakan, berdasarkan pemeriksaan aparat Polsek dan dokter puskesmas beberapa saat setelah korban ditemukan, kematiannya akibat bunuh diri. Tidak ditemukan tanda-tanda pembunuhan. ''Memang, selama ini korban bunuh diri di desa kami adalah orang tua. Baru kali ini anak kecil bunuh diri. Jadi, seolah-olah orang tak percaya,'' ujarnya.

Diperkirakan korban kecewa, sehingga bunuh diri. Jika melihat kasus serupa di daerah lain, bisa jadi anak-anak sekarang daya nalar dan emosinya lebih tinggi, sehingga melihat orang tua kerepotan membiayai sekolah saja, bisa menjadikan beban pikiran, dan memicu anak frustrasi.

Kepala SD Karangtengah 1 Danuri SPd menjelaskan, korban merupakan siswa yang cukup pandai. Sehari sebelum kejadian, dia mendapatkan nilai rendah pada pelajaran IPA, sehingga oleh guru kelasnya, Siswantoro, diletakkan di bangku belakang. ''Guru kelas memiliki cara sendiri-sendiri untuk memacu belajar anak-anak. Bila dalam ulangan mendapatkan nilai jelek, posisi duduknya di bangku belakang. Peringkat tinggi ditempatkan di bangku depan,'' katanya.

Ketidakpuasan

Psikolog anak, Dra Hastaning Sakti Psi MKes, menjelaskan, beberapa kasus bunuh diri anak-anak lebih banyak diakibatkan oleh ketidakpuasan mereka terhadap kondisi di sekitarnya. Sesuai dengan jiwa perkembangannya, anak memiliki keinginan besar untuk diakui keberadaannya, mendapat kesempatan bermain, dan kebebasan. ''Apabila hal itu direnggut dari kehidupan mereka, tidak mustahil dia akan merasa tertekan dan mengambil jalan pintas,'' tuturnya saat menanggapi merebaknya kasus anak gantung diri, di antaranya Yudiyanto.

Sejumlah peristiwa bunuh diri anak-anak dilansir di media massa. Kasus terakhir menimpa seorang anak di Pemalang. Si anak bunuh diri karena merasa tidak puas terhadap orang tua yang melarang dia menyetel tape recorder keras-keras.

Menurut pengajar Fakultas Psikologi Undip itu, anak-anak mengambil jalan pintas bunuh diri, karena cara itu mudah, cepat, dan dianggap mengurangi beban.

Kendati mereka bunuh diri secara sadar, anak-anak usia 7-9 tahun pada umumnya belum mampu menginternalisasikan nilai-nilai moral. Anak-anak seusia mereka, kata Hastaning, lebih banyak dipengaruhi media massa dan lingkungan sekitar yang menyuguhkan bentuk kriminalitas secara vulgar.

''Media berperan penting dalam memengaruhi keputusan anak,'' ujarnya.

Ungkapan kasih sayang orang tua juga acap diterjemahkan berbeda oleh anak-anak. Menurut Hastaning, komunikasi yang diciptakan orang tua sering tidak menghargai nilai-nilai anak.

''Orang tua sering mengatakan sayang kepada anak, tetapi sering cara berkomunikasinya keliru,'' lanjutnya.

Teguran bernada tinggi atau kemarahan membuat anak merasa tidak dihargai. Pada satu titik tertentu, perasaan itu akan menumpuk dan meledak menjadi tindakan seperti bunuh diri. Akumulasi kekecewaan terhadap kondisi sosial, ekonomi, tekanan psikis, dan fisik dapat mendorong anak nekat bunuh diri.

Dia juga membenarkan, bunuh diri dapat dibawa oleh faktor genetis. Namun pengaruh gen jauh lebih kecil dibandingkan dengan faktor-faktor eksternal pada anak-anak. (nik,sf-91,42t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA