| Rabu, 04 Agustus 2004 | NASIONAL |
Dinasihati dengan Tembang
''Mlakune NU kaya slender, sajak ngerayap merohi nglenyer, duwe dalan dhewe rak perlu nabrak, sing sapa nabrak dadi kelenger... (Jalannya NU seperti stoomwals/ mesin penggilas jalan, berjalan pelan namun mulus, punya jalan sendiri sehingga tidak sampai menabrak, barang siapa menabraknya (mesin penggilas) akan binasa.'' Sebait tembang Jawa berisi nasihat karya KH Achmad Faoezal (Syuriah NU Jepara) itu dilantunkan KH Sya'roni Achmadi kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di rumahnya di Desa Kajeksan, Kecamatan Kota Kudus, Selasa (3/8) kemarin. Ketua Dewan Syuro PKB yang ditemani asisten Aries Junaidi sebelumnya berkunjung ke Jepara. Selain nembang Jawa, KH Sya'roni juga berceritera mengenai kehebatan sepak bola Brasil kepada Gus Dur. Ulama yang paling berpengaruh itu hafal nama pemain Negeri Samba satu persatu. Gus Dur juga sering menulis analisa pertandingan sepak bola di media massa. KH Sya'roni tak ketinggalan dengan perkembangan tim sepak bola Eropa. ''Gus Dur pernah menyuruh seorang wartawan bola dari Jakarta untuk berbincang mengenai sepak bola. Sang wartawan bilang, saya itu pinter ngomong balbalan,'' katanya terkekeh. Suara Merdeka beberapa tahun lalu juga pernah meminta agar KH Sya'roni, yang saat itu antara lain didampingi Ketua YM3SK Drs H Em Najib Hassan, menulis analisa sepak bola di koran. Saat itu pula kiai langsung membeberkan analisa mengenai tim-tim tangguh Eropa dan Brazil. Dia memfavoritkan Brazil. Gus Dur mengatakan, kunjungannya hanya untuk silaturahmi ke KH Sya'roni. Namun, demikian ia sempat menyinggung tentang kerukunan umat yang harus tetap terbina, walaupun sebagian dari mereka mempunyai kriteria tersendiri tentang calon pemimpin masa mendatang. ''Yang penting umat harus rukun dulu, yang lain dipikir belakangan,'' kata dia. Menurutnya, kerukunan itu sangat penting di tengah kemajemukan pandangan dan pemikiran yang berkembang di tengah-tengah masyarakat seperti sekarang. Terkait dengan posisi kiai yang dirasa dapat mempersatukan umat, ia menganggap hal itu sebagai suatu keharusan. Ditegaskan, seorang kiai harus dapat memperbaiki kondisi hidup masyarakat. ''Kiai pula yang harus bertanggung jawab untuk mencarikan pemimpin yang baik bagi umatnya,'' tegasnya tanpa merinci kriteria pemimpin yang dimaksud. Kerukunan NU menjelang pilpres putaran ke dua Gus Dur menyatakan, itu sebagai suatu keharusan. Hanya, ia sempat menyesalkan sejumlah pemain politik yang hanya memanfaatkan NU untuk kepentingan politiknya semata. ''NU itu hanya perkakas, kalau sudah tidak dipakai ya disimpan kembali,'' dia menandaskan. Selama ini, ia menilai, perlakukan oknum politik memang cukup baik bagi NU. Namun, suatu saat bila kepentingan politiknya telah terpenuhi, bukan tidak mungkin NU akan ditinggalkan. Posisi NU dalam Pilpres II mendatang, Gus Dur mengatakan, akan Golput. ''Ya Golput,'' katanya. (ton-58r) | ||||