logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Agustus 2004 SEMARANG
Line

Satu Museum Kereta, Tiga Tempat Terlampaui

PERNAHKAH Anda menikmati wisata ke lebih sebuah tempat sehari? Bila pernah, sudah barang tentu yang akan Anda peroleh adalah kepuasan.

Sebab, dengan biaya yang tidak terlalu mahal kepuasan yang didapat akan berlipat-lipat. Maka, kebiasaan langsung pulang setelah mengunjungi satu tempat dengan alasan capek atau keterbatasan waktu bisa saja terjadi. Namun, jika Anda ingin referensi wisata bertambah, tips wisata yang satu ini perlu dipertimbangkan.

Museum Kereta Api yang terletak di Ambarawa, sekitar 35 km ke arah selatan dari pusat Kota Semarang tidaklah sulit untuk dijangkau. Bagi Anda yang tidak memiliki kendaraan pribadi, naik kendaraan umum pun bukan masalah serius.

Anda bisa naik bis jurusan Semarang-Ambarawa. Harga karcis untuk bisa menikmati 21 lokomotif uap tua yang ada di sana hanya Rp 1.600/orang.

Di museum itu, ''diparkir'' sejumlah lokomotif tua. Loko tertua buatan Hartmann Chemintz, beroperasi 1891berbahan bakar kayu. Kereta ini dapat melaju dengan kecepatan 50 km/jam.

Sedangkan lokomotif termuda, berbahan bakar sama, beroperasi 1928 buatan Wintherthur Schefess, Swiss dengan kecepatan 55 km/jam.

Tidak hanya itu, Anda juga bisa menambah pengetahuan dengan melihat-lihat berbagai macam mesin ketik dan hitung kuno buatan Siemens dan Burroughs. Kemudian, telepon kuno buatan ATEW Amerika 1901, pesawat telegram dan alat penunjang operasional kereta uap pada masa lampau.

Bagi yang ingin naik kereta, di museum yang beroperasi sejak 1976 itu menawarkan paket wisata perjalanan Ambarawa-Tuntang, berjarak 6,5 km dengan lori.

Dengan biaya Rp 10.000 /orang untuk perjalanan dalam waktu satu jam pergi-pulang (PP). Atau jika Anda mempunyai kocek lebih, dapat memilih perjalanan dengan kereta uap ke Jambu dan Bedono yang berjarak 10 km selama dua jam (PP). Ini bisa menjadi pengalaman yang unik.

Kereta uap ini dapat disewa oleh satu rombongan. Biaya sewanya hanya Rp 2,2 juta. Dengan dua gerbong kereta itu dapat memuat 80 penumpang. Jadi, Anda bisa memilih untuk menikmatinya bersama keluarga atau teman-teman agar perjalanan lebih meriah dan irit. Untuk itu, sebelumnya Anda harus memesannya (booking). Sebab, bahan bakarnya menggunakan kayu jati, sehingga harus dipanaskan dulu selama tiga jam.

Keunikan kereta uap ini, lokomotif akan lansir dan ditempatkan di belakang gerbong, jika perjalanan sudah sampai Jambu, sehingga lokomotif akan mendorong gerbong sampai ke tujuan.

Menurut Sudono, Kepala Stasiun Museum Ambarawa, pelancong yang biasanya menyewa kereta uap ini rombongan wisata, perusahaan, dan sekolah. Namun, ada juga rombongan yang hanya terdiri atas empat orang.

Selain dari dalam negeri, wisatawan asing seperti dari Belgia dan Jerman juga banyak yang datang. Namun, jangan berkecil hati jika Anda tidak bisa menikmati lori atau kereta uap. Melihat-lihat kereta uap yang dipajang di halaman serta peralatan-peralatan kuno juga sangat memuaskan.

Melanjutkan Perjalanan

Dalam perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 menit ke arah selatan museum, tempat wisata Bukit Cinta bisa menjadi alternatif kedua. Harga karcisnya Rp 1.100/orang. Bagi yang berkendaraan umum, bisa menumpang bus jurusan Salatiga.

Sambil menikmati makan siang di taman, Anda bisa menyaksikan keindahan Rawa Pening. Anak-anak bisa berlarian sepuasnya di tempat itu sambil bermain ayunan dan berbagai permainan lain. Bisa juga menikmati pameran ikan yang ada di tempat itu.

Ingin mengarungi Rawa Pening? Dengan biaya Rp 20 ribu selama 30 menit, perahu motor dengan kapasitas 8 orang bisa Anda sewa. Bagi yang ingin berbelanja, bisa membeli kerajinan tas dari enceng gondok yang banyak dijajakan.

Setelah puas menikmati keindahan Bukit Cinta dan makan siang, jangan langsung pulang.

Tidak sampai tujuh menit baik berkendaraan pribadi atau umum (jurusan Ambarawa -Salatiga) ke arah selatan, Anda bisa sedikit meregangkan otot-otot dengan berenang di tempat wisata Pemandian Muncul.

Lokasinya terletak di Desa Rowoboni Kecamatan Banyubiru. Biayanya sebesar Rp1.600 /orang. Setelah puas berendam dan berenang, bagi Anda yang merasa lapar lagi, makanan khas daerah itu patut dicoba. (Ida Nursanti-91)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA