logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Agustus 2004 SEMARANG
Line

Sejenak Singgah Belajar setelah Ngamen

''SUSTER, pekerjaan saya sudah selesai,'' kata Mamat, sambil menyerahkan sebuah buku yang dibuka lebar-lebar kepada Sr Agatha Titi Pratiwi. Sejenak kemudian Suster Titi, begitu dia biasa disapa, mengulurkan tangan. Sejenak kemudian dia memeriksa pekerjaan bocah berusia 10 tahun itu.

Pada halaman putih bergaris itu tampak beberapa paragraf tulisan, dan di bawah paragraf terakhir terdapat gambar pemandangan gunung dan matahari.

Suster Titi mengamati tulisan Mamat. Sesekali dia mengingatkan bahwa masih banyak kekeliruan di sana-sini. Tak lama kemudian, perempuan itu membubuhkan nilai "B" di atas kertas pekerjaan Mamat.

''Suster, ngoreksinya jangan sembarangan dong. Itu ada tulisan yang salah,'' kritik Mamat.

Dia rupanya tidak puas atas penilaian "guru pendampingnya". Suster Titi pun tersenyum dan mengurangi nilai anak itu menjadi "B minus".

Di petak belakang kantor Rumah Singgah Anak Bangsa (RSAB), tempat Suster Titi bertugas sebagai manajer program, terdengar suara riuh anak-anak. Di ruang berdinding seng itu, sejumlah anak sibuk membaca buku. Sebagian yang lain menggambar di papan tulis, ada pula yang memetik gitar sambil bernyanyi.

Santi, bocah berusia 14 tahun yang mengaku tinggal di Gunung Brintik, terlihat membaca diktat Biologi.

''Di sini kami cuma main kok, Mbak. Nanti sore kami ngamen di dekat Tugu Muda,'' katanya.

Meski Santi tampak serius belajar, kawan-kawan yang lain tak sungkan menyanyi dengan suara keras. Tak urung, beberapa anak jalanan yang semula asyik belajar pun menutup buku dan beralih menyanyi.

''Anak-anak jalanan tidak suka situasi formal atau terikat waktu. Mereka mau belajar asal suasananya bebas,'' ungkap Suster Titi.

Sejak lima tahun silam, RSAB mengadakan kejar paket untuk anak jalanan usia SD sampai SMA. Materinya tidak melulu pelajaran baca tulis dan menghitung, tetapi juga keterampilan, seperti menjahit, montir, dan setir mobil untuk anak usia di atas 17 tahun.

''Pelajaran keterampilan disesuaikan dengan pekerjaan yang biasa mereka tekuni. Mereka tidak bisa diikat oleh waktu, tempat, dan aturan yang kaku,'' ujarnya.

Tahun ini, meski telah ada kesepakatan bahwa kejar paket SD-SMP hanya dilakukan pada Senin, Rabu, dan Kamis, senyatanya anak-anak itu datang tiap hari. Seolah menemukan tempat bermain, anak-anak itu mengaku lebih betah tinggal di RSAB ketimbang di jalanan atau di rumah kumuh mereka.

''Berbelas kasihan saja tidak cukup untuk mengatasi permasalahan anak jalanan,'' kata Suster Titi.

Anak-anak yang tumbuh di sekitar PLN, Thamrin, Tugu Muda, Gunung Brintik, Johar, dan puluhan tempat mangkal itu memang membutuhkan pengakuan sekaligus penanganan.

Perlu diketahui, untuk tak kurang dari 1.783 anak jalanan di Kota Semarang, hanya tersedia tiga rumah singgah. Padahal, salah satu tempat yang diyakini dapat menjadi terapi bagi anak jalanan adalah rumah singgah. Akan tetapi, meyakinkan anak-anak jalanan bahwa ada rumah yang bisa menerima kedatangan mereka bukanlah pekerjaan mudah.

Seperti diungkapkan Suster Titi , dunia jalanan bukanlah tempat yang aman bagi anak-anak. ''Seperti anak-anak lain, anak jalanan juga menginginkan hidup normal. Mereka membutuhkan tempat untuk tinggal, rasa aman, nyaman, dan ingin diterima oleh masyarakat.'' (Ninik D-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA