logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Agustus 2004 SEMARANG
Line

Dinamometer Made in Unnes Dipesan Industri Otomotif

''SAMPAI saat ini, pengujian daya sepeda motor hanya berupa pengujian pada jalan (road test) dengan mengandalkan perkiraan. Tentu saja hal itu kurang bisa dijadikan acuan,'' tutur Moh Tohari, mahasiswa Teknik Mesin Unnes, yang merancang dinamometer sasis.

Bersama dua kawannya, M Habib Musthofa dan Ihsan Hakim, Tohari merancang alat yang masih langka itu. Dinamometer sasis adalah suatu alat uji otomotif yang digunakan untuk mengukur daya sebenarnya yang diberikan motor kepada roda-roda penggerak. Alat tersebut mampu meniru keadaan-keadaan beban yang dialami di jalan.

''Alat ini juga bisa menunjukkan lebih tepat hasil-hasil penyetelan atau perbaikan-perbaikan yang telah dilakukan,'' katanya.

Dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa (Pimnas) XVI di STT Telkom Bandung beberapa waktu lalu, karya ilmiah yang berjudul ''Pemanfaatan Tekanan Hidrolis sebagai Media Pendukung Daya Sepeda Motor: Sebuah Desain Dinamometer Sasis Alternatif'' itu meme- nangi Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM). Mereka memperoleh medali emas untuk kategori LKTM bidang teknologi.

Di babak final, Unnes menyisihkan UI Jakarta, Unibraw Malang, Unair Surabaya, Unhalo Kendari, UNS Surakarta, dan STIMIK Kharisma Makassar. Acara itu diikuti oleh 24 PTN/PTS di seluruh Indonesia.

Keluar sebagai juara II, Hamdan Arfandy (STIMIK Kharisma Makassar) dengan karya berjudul ''Voice Over Internet Protocol (VOIP): Solusi Telekomunikasi Alternatif yang Menjangkau Seluruh Lapisan Masyarakat''. Adapun karya Harioge Putradi dkk (Unibraw Malang) yang berjudul ''Pemanfaatan Wijen dalam Pola Konsumsi Masyarakat sebagai Penunjang Pengobatan Hipertensi'' menjadi juara III.

Diproduksi Negara Maju

Saat ini alat semacam dinamometer itu hanya diproduksi negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Jepang. Menurut keterangan Ir Widya Aryadi, dosen Teknik Mesin Unnes yang menjadi pendamping Tohari dan kawan-kawan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memiliki alat semacam dinamometer yang cukup komplet. Mulai dari dyno-test untuk motor sampai untuk mobil.

Menurut Widya, investasi yang diperlukan untuk kepemilikan alat itu dalam set yang lengkap mencapai ratusan miliar rupiah.

Kalaupun ada produsen lokal yang membuatnya, menurut dia, harganya masih melebih angka Rp 100 juta. Itu pun belum berteknologi komputer. ''Alat ini masih dalam pengembangan, dan saat ini sudah sampai generasi ketiga. Mudah-mudahan bisa terserap oleh industri otomotif,'' ujar Widya.

Hasil Pimnas Unnes sebelumnya, juga dari jurusan Teknik Mesin, menarik minat industri otomotif. Hasil penelitian tentang rem pintar itu dipakai oleh PT Kanzen untuk diterapkan dalam produksi motornya.

Ir Widya Aryadi menyatakan alat yang diteliti mahasiswa itu biasa digunakan sebagai pengontrol kualitas dalam industri otomotif.

''Di luaran, harganya mencapai Rp 1,5 miliar. Yang diproduksi Unnes menghabiskan sekitar Rp 25 juta,'' kata Widya, yang sejak mahasiswa telah malang melintang di ajang Pimnas. (Achiar M Permana-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA