| Rabu, 04 Agustus 2004 | SEMARANG |
Siswa SMA Diponegoro Berkurang 20% Per TahunSEMARANG- Kekurangan siswa banyak dialami sekolah swasta. Begitu pula di SMA Diponegoro, Jalan Tri Lomba Juang. Untuk menggaet siswa yang kian tahun kian menyusut tersebut, penyelenggara sekolah terpaksa terus memutar otak. Terakhir, sekolah yang berdiri sejak awal 1980-an itu harus puas dengan jumlah murid di kisaran angka 20 per kelas. "Ya, mau gimana lagi, mungkin fisik gedung dan fasilitas dinilai calon murid belum komplet. Atau barangkali karena keberhasilan KB ya, jumlah anak SMA sekarang jadi berkurang," tutur Purwanto, Kepala SMA Diponegoro yang baru dilantik Sabtu (31/7), berintrospeksi. Jika diperhatikan, gedung yang menyatu dengan SMP itu sebenarnya masih layak pakai. Soal jumlah murid yang sejak 1999 turun rata-rata 20% per tahun, dia mengatakan, banyak faktor yang berpengaruh. Meski posisi sekolah swasta itu strategis di pusat kota, banyak keluarga yang mulai memilih bertempat tinggal di perumahan pinggir Semarang. "Orang tua lebih suka anak-anaknya sekolah di tempat yang lebih dekat dengan rumah," katanya seusai serah terima jabatan dengan kepala sekolah lama, Ibnoe Masykur, yang dihadiri Ketua Yayasanan Pangeran Diponegoro Djumaeri. Di sisi lain, banyak sekolah swasta saat ini menjamur, baik di pusat maupun di pinggir kota. Apalagi sekolah-sekolah negeri menerapkan kebijakan bilung (bina lingkungan) yang memperbolehkan penambahan murid lebih dari empat puluh per kelas. "Kebetulan lulusan SMP di Semarang ini 23.000, padahal daya tampung SMA 27.000. Imbasnya, kelebihan 4.000 kursi ikut mengurangi jatah SMA Diponegoro," katanya. (rei-89) |