| Rabu, 04 Agustus 2004 | SEMARANG |
Menjelang Kehidupan Baru Wali Kota (1)Melepas Predikat Duda demi SintoBULAN Agustus, tahun ini tampaknya akan menjadi pesta rakyat bagi warga Kota Semarang. Betapa tidak, di samping menjadi peringatan puncak HUT Kemerdekaan RI 17 Agustus, Wali Kota Semarang H Sukawi Sutarip SH SE juga akan melepas ''label'' dudanya. Apabila tidak ada aral melintang, pelepasan status yang disandang sejak anak bungsunya, Suka Adisatya Sukawijaya, masih duduk dibangku TK, --sekarang Adi sudah kuliah semester 3 di Fakultas Teknik Undip-- dilakukan dalam upacara sakral di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJ) Jl Gajah Raya pada 21 Januari 2004 pukul 09.00. Sukawi mengenang masa lalunya dengan mengatakan, dulu pernah berjanji tidak akan meminang perempuan menjadi istrinya. ''Saya tidak akan menikah lagi sebelum anakku Adi menginjak bangku SMA,'' kata pria berkumis tipis itu mengenang. Janji itu akhirnya benar-benar terbukti. Setelah putra bungsunya Adi menyelesaikan bangku SMA dan kini sedang menempuh kuliah di Fakultas Teknik Undip, Sukawi akan melepas masa dudanya. Semua persiapan untuk menyongsong hidup baru itu telah dipersiapkan. Namun orang nomor satu di kota Semarang ini mengaku tidak mau buru-buru menyebutkan sejumlah persiapan itu. ''Yang pasti pestanya sederhana, KUA sudah siap, saksi dan wali termasuk kiai. Mudah-mudahan berjalan lancar yah,'' paparnya sembari menyindir agar wartawan ikut memberi doa restu. Bapak tiga anak yang murah senyum ini mengaku telah menyunting bunga cantik dan menawan, Sinto. Menurut dia, Sinto adalah janda yang belum punya anak. ''Gimana, saya masih pantas punya momongan nggak,'' ujarnya berkelakar. Dia melanjutkan, pernikahannya tidak akan digelar secara meriah, tetapi sederhana cukup dengan ijab kabul, layaknya masyarakat umum. Hal itu dilakukan karena dirinya tidak ingin acara suci itu mendapat sorotan negatif. ''Saya ingin keluarga yang akan saya bangun diawali dengan semua hal yang positif. Saya ingin membuka masa depan dengan kebahagiaan abadi, dan suci,'' ujar bapak berusia 53 tahun ini. Sebenarnya dalam benaknya ingin mengadakan pesta rakyat yang meriah. Sebagai bapaknya warga Semarang, dia mengaku merasa tidak enak apabila melangsungkan pernikahan tanpa mengundang warganya. ''Terus terang saya membayangkan, kalau semua ketua RT dan RW diundang, maka yang datang jumlahnya puluhan ribu orang. Namun apa tidak menimbulkan sorotan miring.'' Mantan suami Dra Hj Endang Setyaningdiah MM ini memang berkeinginan membagi kebahagiaan dan kegembiraannya dengan warga Semarang. Dia mengistilahkan dengan pesta bersama rakyat. Hanya saja, berulang ulang dia mengatakan khawatir adanya penilaian berlebihan. Hal itu membuat dirinya menangguhkan rencana mengundang ribuan warga kota ATLAS. Kendati demikian, Ketua Umum PSIS ini tidak melarang jika dalam upacara sakralnya disambut dan dihadiri masyarakat. (Hasan Hamid, Jamal Al Ashari-64) |