| Rabu, 04 Agustus 2004 | SEMARANG |
Gurih Tahu Sumedang di Tanjakan SirandaMENJADI pedagang tahu sumedang mungkin sudah menjadi peruntungan Senin Setiawan (29). Empat tahun lebih ia mengadu nasib di Semarang dengan berdagang tahu yang terkenal gurih itu. Boleh jadi, itu karena darah Sumedang yang mengalir pada dirinya dari Ny Oon (alm), ibunya, yang asli Ciduging, Darmaraja, Sumedang. Setiap hari, dengan gerobak, anak keempat dari lima bersaudara itu mangkal di tanjakan Jalan Diponegoro, Siranda. Dari arah Simpanglima, kira-kira 100 meter setelah pohon randu alas berukir, yang beberapa bulan lalu memecahkan rekor Muri. Sebelumnya, lelaki kelahiran Ciampean Bogor itu membantu temannya berjualan tahu sumedang di depan toserba Ada Banyumanik. Beberapa tahun ''magang'' di sana, ia mulai berpikir untuk berdikari. Bermodalkan gerobak yang dibeli dari tabungannya selama berjualan, mulailah ia melayani pembeli tahu, tahu isi, keripik, dan pisang goreng olahannya. Sebuah ''industri'' yang dimiliki sendiri. ''Tentu saja jauh lebih enak mengelola usaha sendiri. Mau dapat banyak atau sedikit, itu semua bergantung pada usaha keras kita,'' kata Senin. Kendati penghasilannya tak terlampau besar, Senin merasa, mangkal di satu tempat memberikan perasaan yang lebih nyaman ketimbang berkeliling. Memang, ia pernah merasakan pahit-getir menjadi penjaja tahu keliling. Sebelum berusaha di Semarang, selama beberapa tahun ia berdagang tahu keliling di Kelapagading, Jakarta. Paling tidak, Senin tak perlu lagi berteriak, ''Taahuu! Tahu, tahu sumedang. Masih hangat.'' Sayang Anak Dalam sehari, suami Wulandari (27) itu mengantongi laba bersih sekitar Rp 30.000. Kalau lagi mujur, tentu ia bisa mendapat lebih dari itu. Biasanya, pada malam Minggu atau malam liburan, omzet penjualannya mengalami peningkatan yang berarti. Senin tak memberikan harga tinggi pada jajanan yang dijualnya. Sepotong tahu sumedang yang gurih cuma dihargainya Rp 400. Adapun jajanan lain, seperti tahu isi, keripik, dan pisang goreng dijualnya dengan harga flat, Rp 500 per biji. Setiap hari, Senin harus mengeluarkan modal tak kurang dari Rp 75.000. Sebagian besar modal tersedot untuk membeli bahan-bahan yang hendak diolahnya. Selebihnya, untuk membeli minyak dan ongkos pergi-pulang ke rumah kontrakannya, di Srondol. Tak lupa, Senin menabung hasil penjualannya. Sebab, dia mesti memberikan nafkah pada anak dan istrinya yang masih tinggal di kampung. Paling lama tiga bulan sekali lelaki itu berusaha untuk pulang kampung, menjenguk istri dan dua anaknya, Dewi (9) dan Windi (1). ''Tapi kalau lebaran mah, insya Allah, saya selalu berupaya untuk balik,'' katanya. Biasanya, Senin berjualan hingga pukul 21.00. Kalau malam Minggu, dia bisa berjualan lebih larut lagi. Sebab, pada saat itu pembeli sedang ramai-ramainya. Demikian pula jika lagi sepi pembeli, dia terpaksa pulang lebih lambat. Senin memulai aktivitasnya pagi-pagi buta. Saat itulah ia berangkat ke Pasar Jati, Banyumanik untuk membeli bahan baku. (Achiar M Permana-89) |