| Rabu, 04 Agustus 2004 | SEMARANG |
Bila Madrasah Dikucuri DanaBILA dibandingkan dengan sekolah negeri, kondisi madrasah yang dikelola Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU tentu amat berbeda. Sekolah negeri memperoleh topangan subsidi dari pemerintah, sedangkan pengelola madrasah mesti pontang-panting mengupayakan sumber dana sendiri. ''Padahal, kalau dilihat dari prestasinya, sekolah atau madrasah di lingkungan LP Maarif tak kalah dari sekolah negeri,'' ujar Drs HM Zain Yusuf MM, Ketua Pengurus Wilayah (PW) LP Maarif Jateng, dalam silaturahmi dan sambung rasa pengurus Maarif dengan Ketua PBNU (nonaktif) KH Hasyim Muzadi di Hotel Puri Garden, Selasa (3/8) kemarin. Angka kegagalan di madrasah Maarif 12%, sedikit lebih rendah daripada yang tercatat di rata-rata sekolah negeri. Belum lagi, beberapa madrasah Maarif selalu memperoleh peringkat di atas rata-rata sekolah negeri. Misalnya, Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus dan Madrasah Al Irsyad Demak. ''Kuwi durung digrojok (Itu belum dikucuri dana). Bayangkan, kalau madrasah dikucuri dana, tentu prestasinya lebih hebat lagi,'' imbuh Zain yang diikuti tepuk tangan 168 pengurus cabang dan wilayah LP Maarif NU Jateng yang hadir dalam acara itu. Kini LP Maarif mengelola 2.168 sekolah dan madrasah berbagai jenjang pendidikan, mulai setingkat SD, SMP, hingga SMA. Jika dihitung, siswa yang menuntut ilmu di lingkungan lembaga pendidikan milik nahdliyyin itu ada 372.952 siswa. Mereka diasuh oleh 21.438 guru. Sebanyak itulah yang setiap hari dikelola oleh LP Maarif. ''Itu yang sudah masuk data base. Yang belum tercatat lebih banyak lagi,'' tutur dia. Memandirikan Untuk meningkatkan kualitas sekolah-sekolah yang dikelolanya, LP Maarif Jateng secara periodik menyelenggarakan training, pelatihan, dan workshop. Kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan untuk memberdayakan dan memandirikan madrasah. Pembinaan itu perlu terus-menerus dilakukan agar kualitas sekolah dan madrasah bisa dipertahankan. Kualitas madrasah, lanjut Zain, tidak akan bisa dicapai tanpa dukungan pelbagai pihak. Zain melihat, ada sejumlah pimpinan daerah yang memiliki perhatian sangat serius kepada pendidikan. Sebaliknya, tak sedikit yang tidak terlalu memedulikan perkembangan madrasah. ''Ada juga yang gak nggatekke (tak memperhatikan). Karena itu, ke depan nahdliyyin perlu memikirkan bupati dan wali kota yang pernah merasakan susahnya hidup di madrasah atau pesantren. Hal itu agar kalau terpilih dia memiliki perhatian besar kepada madrasah,'' ujar Zain yang juga Direktur Semarang Institute for Moslem Educational Studies (SIMES). (Achiar M Permana-91e) |