logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Agustus 2004 SEMARANG
Line

Nekat Jualan di Bawah Pengawasan Aparat

  • Pedagang Pasar Tumpah Jl MT Haryono

SEMARANG-Meski sehari sebelumnya ditertibkan, sekitar 200 pedagang pasar tumpah Jl MT Haryono (depan Java Supermal hingga perempatan Metro), Selasa (2/8) dini hari tetap berjualan di tempat semula. Mereka menggelar dagangan di bawah pengawasan ketat petugas Satpol PP dan aparat kepolisian.

Awalnya suasana sempat tegang. Sejak pukul 22.00, sebanyak 20 petugas Satpol PP yang dipimpin langsung kepala kantor, Tommy Y Said, serta dua SST aparat kepolisian Polwiltabes Semarang telah datang ke lokasi pasar. Mereka menjaga lokasi itu agar tidak digunakan pedagang menggelar dagangan. Namun para pedagang yang malam itu didampingi beberapa aktivis LMND, LBH Semarang, PRD, FNPBI, dan Serikat Mahasiswa Kaligawe (Semak) bersikukuh tetap berjualan di tempat itu.

Mereka melakukan negosiasi, namun menemui jalan buntu. Petugas Satpol PP bersikeras meminta pedagang pindah ke belakang Pasar Peterongan, sementara pedagang tetap bersikukuh menggelar dagangan. Melihat kenekatan para pedagang, petugas mengalah. Mereka kemudian hanya berjaga-jaga di sekitar pasar. Sedangkan para pedagang berinisiatif merapikan dasarannya.

''Suasana sangat tidak memungkinkan untuk memindah mereka ke belakang. Kami tidak ingin terjadi insiden, sehingga malam ini kami hanya bertindak persuasif saja,'' tutur Tommy.

Upaya penertiban yang dilakukan Pemkot, kata Tommy menindaklanjuti keluhan warga. Aktivitas jual beli yang menggunakan sebagian jalan MT Haryono itu dinilai memacetkan lalu lintas.

''Aktivitas di jalan itu membahayakan, baik untuk pengguna jalan maupun keselamatan mereka sendiri. Bayangkan kalau tiba-tiba ada truk atau bus yang remnya blong dari arah Tanah Putih, siapa yang akan disalahkan? Tentu saja Pemkot dan polisi,'' ujarnya.

Terlebih sejak Senin (2/7), Dinas Pasar telah menghentikan penarikan retribusi kepada para pedagang di tempat tersebut. Jadi kalau tetap berjualan, status mereka pedagang liar.

Sepi Pembeli

Para pedagang menolak dipindah ke belakang Pasar Peterongan, karena sepi pembeli. Selain itu, tempat tersebut tidak cukup menampung jumlah mereka yang banyak. Harni (28), seorang pedagang menuturkan, di tempat baru, pembeli enggan datang. Mereka lebih memilih belanja di Pasar Sendiko (Jl Wonodri Baru) yang berada di pinggir jalan. ''Kami mau-mau saja pindah, asal kalau tidak laku, bapak-bapak aparat itu mau mengganti kerugian kami,'' kata Harni.

Alasan petugas yang menganggap para pedagang memacetkan lalu-lintas dinilai Harni hanya mengada-ada. Sebab pengguna jalan pada malam hingga dini hari tidak terlampau banyak. ''Pokoknya, kami tetap akan berjualan di sini, walaupun harus empet-empetan seperti ini,'' tegas pedagang daging ayam itu.

Sementara itu, aktivis LBH Semarang Teuku Raja Rajuandar dan aktivis LMND Bagas berjanji akan tetap mendampingi para pedagang ketika berhadapan dengan Pemkot.

Mengingat Dinas Pasar tidak lagi mengurusi pasar tumpah tersebut, para pedagang berinisiatif membersihkan sampah secara swadaya. (roe-64)

Komentar

Tommy Y Said

''Suasana sangat tidak memungkinkan untuk memindah mereka ke belakang. Kami tidak ingin terjadi insiden, sehingga malam ini kami hanya bertindak persuasif saja.''

Priyo Anggoro

''Akhir-akhir ini memang ada usulan agar Pemkot membeli bangunan Metro Biliar. Sebab tempat itu bisa dipakai menampung luapan pedagang yang berjualan di Pasar Peterongan dan sebagian tumpahan pedagang di Jalan MT Haryono, antara perempatan Peterongan dan Java Supermal.''


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA