logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 04 Agustus 2004 KEDU & DIY
Line

Gunungkidul Segera Terlepas dari Kekeringan

KABUPATEN Gunungkidul merupakan salah satu dari lima kabupaten di Provinsi DIY yang setiap tahun selalu dilanda masalah kekeringan. Daerah yang mempunyai luas wilayah 1.485,36 kilometer persegi atau 46,63 persen dari keseluruhan luas wilayah Yogyakarta itu, penduduknya kebanyakan hidup dari hasil pertanian ketela, kacang, kedelai dan jagung.

Gunungkidul yang merupakan daerah pegunungan kapur dan terjal ini memiliki jumlah penduduk lebih dari 650 ribu jiwa. Daerah ini setiap tahun selalu menjadi daerah langganan kekeringan, khususnya Gunungkidul bagian selatan. Namun tampaknya, permasalahan itu dalam tempo tidak terlalu lama lagi dapat menikmati air bersih dari Gua Bribin.

Setelah Proyek Pembangunan Pembangkit Listrik Dengan Memanfaatkan dan untuk Eksploitasi Air Sungai Bawah Tanah di Bribin, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Senin (2/8) lalu secara resmi pengeboran ke dinding gua Bribin dimulai.

Proyek yang dikerjakan antara Pemerintah Jerman dan Pemerintah Indonesia ini, menelan biaya sebesar Rp 70 miliar. Dana sebesar itu, seluruhnya ditanggung Pemerintah Jerman melalui Universitas Karlsruhe, Jerman.

''Proyek ini sepenuhnya dibiayai Pemerintah Jerman, kami hanya membuatkan jalan menuju lokasi,'' kata Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X seraya menambahkan ''Bantuan itu diwujudkan dalam bentuk tenaga teknis dan peralatan.''

Hal itu dibenarkan Menristek Hatta Radjasa. Semua itu, tambah Hatta, untuk mengantisipasi kebocoran-kebocoran yang terjadi. Apalagi proyek ini, kerjasama dengan Pemerintah Jerman melalui Universitas Karlsruhe, Jerman dengan berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia serta instansi pemerintah.

Seperti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), UNS, UII, ITB. Sedangkan instansi pemerintah mulai dari Departemen Pertanian, Peternakan, Kesehatan, Industri dan Kimpraswil dan Badan Tenaga Atom Nasional sebagai pelaksana teknis dibantu dengan tenaga ahli dari Jerman yang dipimpin Prof Dr Ing Franz Nestnjann Dekan Fakultas Geo/civil & Saince Universitas Karlsruhe Jerman.

Pengeboran

Dana sebesar itu untuk pembelian alat berat dan biaya pengeboran, sedangkan Indonesia dalam hal ini Kimpraswil dan Departemen Pertanian hanya membuatkan jalan ke lokasi pengeboaran. Lokasi pengeboran di Bribin, Kecamatan Semanu atau sekitar 20 kilometer sebelah timur Kota Wonosari ini, daerahnya cukup terjal karena berada di daerah pegunungan kapur.

Pengeboaran awal yang sudah dimulai sejak 2 Juli 2004 lalu itu, Senin (2/8) lalu pengeborannya sudah mencapai kedalaman 19 meter dari permukaan tanah. Pengeboran sampai ke dinding gua Bribin diperkirakan sedalam 104 meter dan baru akan selesai empat bulan.

Di dalam gua tersebut, nantinya akan dibangun bendungan air dan pembangkit listrik tenaga air yang memanfaatkan aliran sungai di bawah tanah. Listrik yang dihasilkan dari bendungan itu, nantinya akan dipergunakan untuk mengangkat air sungai bawah tanah ke permukaan dan langsung didistribusikan ke masyarakat Gunungkidul.

Pengeboran dengan diameter 2,4 meter ini, nantinya akan dipergunakan untuk memasukkan peralatan berat mulai dari material dan turbin pembangkit listrik. Dengan kata lain, lubang itu sebagai pintu keluar masuknya peralatan dan pekerja.

Karena melalui gua Bribin, jelas tidak mungkin. Selain lokasi bendungan (dam) letaknya cukup jauh (4 kilomter dari mulut gua), juga medannya sulit serta dapat mengganggu lingkungan (pencemaran) di sekitar lokasi bendungan.

Bendungan setinggi 4 meter dan panjang 10 meter itu, diperkirakan akan mampu menampung air 2.000 liter per detik pada musim kemarau dan 4.000 meter kubik pada musim hujan.

Sedangkan turbin pebangkit listrik tenaga air diperkirakan akan menghasilkan tenaga listrik 440 KVA, sementara untuk mengangkat air ke permukaan tanah hanya diperlukan 220 KVA. Sehingga kelebihan listrik itu, bisa dipergunakan untuk penerangan desa yang ada di sekitar lokasi.

Sebelumnya sistem eksploitasi air sungai bawah tanah menggunakan pembangkit listrik dari hasil operasi generator, namun mesin itu hanya mampu menaikkan air 80 liter per detik.

Sementara konsumsi bahan bakar solar 70 sampai 80 liter per jam. Apabila generator disel dioperasikan selama 5 jam perhari maka diperlukan biaya solar tidak kurang dari Rp 500 ribu atau sekitar Rp 15 juta per bulan atau tidak kurang dari Rp 180 juta per tahun.

Meski demikian, sering mengalami gangguan dengan tidak bisa terangkatnya air sungai bawah tanah ke permukaan. Sehingga belum bisa mengatasi kekeringan yang melanda warga Gunungkidul khususnya di daerah bagian selatan.

Tak Ada Lagi Kekeringan

Melalui proyek Mikrohidro sungai bawah tanah di Bribin, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, diharapkan tahun depan (2005) masalah kekeringan di daerah itu sudah bisa teratasi.

''Kami berharap tahun depan masalah kekeringan di Gunungkidul sudah bisa teratasi. Program ini sesuai dengan harapan Provinsi DIY yang ingin mewujudkan tahun 2005, Tahun Sehat,'' ujar Sultan.

''Kalau proyek ini berhasil, bisa jadi kita kembangkan ke sumber air bawah tanah di Ngobaran, Soropan dan yang lainnya. Karena investasinya cukup mahal, tetapi sekarang kita sudah memiliki peralatannya,'' tambah Sri Sultan.

Dengan adanya proyek ini, maka sebagian warga Gunungkidul terutama yang berada di bagian selatan yang setiap tahun sering dilanda kekeringan mulai tahun depan akan segera teratasi. (Sugiarto-76)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA