| Rabu, 04 Agustus 2004 | INTERNASIONAL |
NASA Kirim MESSENGER ke Planet MerkuriusCAPE CANAVERAL - NASA (badan penerbangan dan antariksa AS) meluncurkan misi pertama ke planet Merkuri, Selasa kemarin. Para ilmuwan berharap, misi tersebut dapat membongkar misteri tentang planet kecil itu, yang letaknya paling dekat ke Matahari. Pesawat ruang angkasa itu, yang diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, diberi nama MESSENGER (MErcury Surface, Space ENvironment, GEochemistry and Ranging). Diangkut roket pendorong Delta-2 buatan Boeing Co, pesawat antariksa tersebut dengan suara bergemuruh membelah angkasa malam di atas Air Force Station di Cape Canaveral pada pukul 02.16 waktu setempat (13.16 WIB). Misi penerbangan ke Merkuri itu menelan biaya 427 juta dolar AS (sekitar Rp 3,84 triliun). Di antara pertanyaan yang diharapkan oleh para ilmuwan dapat terjawab lewat misi tersebut adalah, apakah Merkuri - yang ukurannya lebih besar sedikit daripada Bulan - suatu ketika sama ukurannya dengan Bumi. Para ilmuwan menduga, planet tersebut menciut karena kehilangan lapisan luarnya yang terdiri atas bebatuan. Diduga, penciutan itu terjadi akibat dua hal: tubrukan dengan benda angkasa atau ablasi (semacam erosi) akibat angin matahari. Para ilmuwan juga yakin, ada air beku di planet tersebut. Air itu terperangkap di bawah kawah-kawah kedua kutubnya. Karena kedua kutub itu tidak pernah terkena sinar matahari, kawah-kawah tersebut pun menciptakan perbedaan suhu - antara siang dan malam - 1.100 derajat F (116,16 derajat C) di Merkuri. Tujuh Tahun Sampai Planet-palanet bagian dalam (Merkuri, Venus, Bumi, dan Mars) pada sistem tata surya kita semuanya terbentuk dari piringan gas dan debu - nebula matahari - yang mengelilingi Matahari ketika masih berusia dini. ''Keempat planet tersebut terbentuk lewat sejumlah proses, pada waktu bersamaan, tetapi hasil bentukan itu ternyata sangat berbeda-beda. Dan Merkuri adalah yang paling ekstrem di antara keempatnya,'' kata Sean Solomon, ilmuwan kepala pada misi Merkuri. MESSENGER akan mencapai Merkuri setelah tujuh tahun terbang mengkuti pola sistem matahari. Selama itu, ia akan 15 kali mengelilingi Matahari, dua kali lewat dekat Bumi, dua kali dekat Venus, dan tiga kali dekat Merkuri sendiri. Pada setiap perlintasan planet tersebut akan terjadi tarikan gravitasi yang akan memperlambat kecepatan MESSENGER, sehingga ia akhirnya dapat menyelinap memasuki orbit Merkuri untuk melakukan penelitian selama dua tahun. Gambaran terdekat permukaan Merkuri yang pernah disaksikan oleh para ilmuwan adalah lewat gambar-gambar hasil jepretan pesawat antariksa Mariner-10 pada pertengahan 1970-an. Foto-foto tersebut sanggup memetakan 45 persen permukaan Merkuri, dan mampu pula mengungkap bahwa ia punya medan magnet yang kuat sekali. Artinya, kata para ilmuwan, ada indiksi dua-per-tiga bagian planet tersebut adalah besi. Cuaca Mengkhawatirkan Cuaca buruk nyaris seharian, yang muncul dari kehadiran badai tropis Alex, membuat tim peluncur cemas jangan-jangan peluncuran tidak dapat dilaksanakan, seperti Senin lalu (jadwal peluncuran sebenarnya). Tetapi, untung sistem badai tersebut bergerak ke utara sekitar dua jam sebelum waktu peluncuran, tepat seperti diramalkan para ahli cuaca NASA. MESSENGER dibuat oleh Applied Physics Laboratory di John Hopkins University, dan merupakan seri ketujuh Discovery yang merupakan pesawat antariksa berbiaya rendah untuk misi penerbangan di sistem matahari. Salah satu pesawat sejenis, Genesis - yang diluncurkan pada 2001 - diharapkan tiba kembali di Bumi pada Setember mendatang, dengan membawa contoh-contoh material angin matahari. (rtr-ed-30) |