| Rabu, 04 Agustus 2004 | BUDAYA |
Pameran Seni Rupa Kaki Langit BaruStigma "Mangga Pisang Jambu"PROGRESIVITAS bagi seniman adalah keniscayaan. Pengembaraan dari satu persinggahan ke persinggahan berikutnya memberikan pengayaan pikir dan rasa. Ibarat kupu-kupu, mereka senantiasa bermetamorfosis untuk mencapai puncak keindahannya. Ya, seniman adalah makhluk diaspora. Menjalani fitrahnya itu, 16 seniman yang tergabung dalam Komunitas Kayangan Semarang menggelar pemeran seni rupa ''Kaki Langit Baru'' di Museum Ronggowarsito, Jl Abdurrahman Saleh Semarang, 2-6 Agustus 2004. Mereka memamerkan 37 karya, yang sebagian besar berupa lukisan. Mengamati deretan karya yang dipajang dengan penataan memikat itu, ada kebaruan yang ditawarkan kepada apresian. Tapi harap dicatat, kebaruan itu bersifat sangat subyektif. Paling tidak bila dilihat dari perspektif mereka (para seniman) sendiri. A Basori, Gopur Bahroto, Genuk Haryanto, Gunawan, Handoko Wibowo, Ragil Supadi B, Aricadia, Atie Krisna, Ham Ngien Beng, Auly Kastari, Stefani Tjandra, S Hartono, Dimas N Hadi, Noehoni Harsono, Makruf Akbar, dan Ridwan adalah nama-nama yang selama ini dilekati stigma pelukis ''mangga pisang jambu'', olok-olok atas corak realisme klasik yang mereka anut. Dalam pameran tersebut, mereka mencoba melepaskan diri dari belenggu stigma tersebut. Pameran merupakan tindak lanjut dari sebuah workshop kreatif yang dipandu kurator Galeri Nasional Mamannoor. Memang, workshop yang hanya digelar selama tiga hari itu tidak serta-merta menjadi tongkat magic, tapi setidaknya dapat menjadi pemantik proses kreatif mereka. Jejak-jejak realis kentara pada hampir keseluruhan karya. Para perupa masih banyak memapar objek lukisan figuratif. Sedangkan media yang mereka gunakan belum beranjak dari cat minyak, kanvas, cat air dan kertas. Namun demikian, hal itu tak terlampau menjadi persoalan. Sebab, progresivitas di sini lebih penting kepada bangunan wacana di balik karya-karya mereka. Aricadia misalnya, mencoba menuang gagasan pencerahan melalui dua karyanya. Dalam karya mix media berjudul ''Tokoh'' misalnya, Aricadia menggambarkan proses pencerahan dirinya dengan bahasa rupa yang cenderung wantah. Delapan buah lukisan potret, yakni Sukarno, Suharto, Nietchze, Charlie Caplin, John F Kennedy, Frida Kahlo, Bob Marley, dan wajahnya sendiri, tergantung di atas tiang yang berpangkal sebuah kurungan. Kurungan adalah metafor bagi belenggu kreativitas. Adapun sederet tokoh beken tersebut merupakan simbol pendobrak. ''Bukan Kuldi'', karya Arcadia yang lain, berikhwal sama. Serupa dengan Aricadia, Ma'ruf Akbar dalam karya ''Langkah Awal Perjalanan'' juga menggambarkan kesukacitaan proses pencerahan. Dia menggunakan metafor-metafor bentuk yang tak terlampau sulit diraba, yakni pertarungan Bima dengan naga raksasa dalam ikhtiarnya mencari tirta amarta. Tampaknya, baik Aricadia maupun Ma'ruf, sama-sama ingin membuat tengara satu babak metamorfosis dalam perjalanan kreatif mereka. Dasar Realis Beberapa perupa menggunakan dasar realisnya yang kuat untuk menyampaikan pesan sekaligus memberi makna terhadap objek-objek figuratif yang terpapar di atas kanvas. Gopur Bahroto, Handoko Wibowo, Gunawan, S Hartono, dan Genuk Haryanto tampil dengan karya-karya yang cenderung surealis. Terdapat satu karya yang unik, tidak saja karena dibuat oleh Atie Krisna, satu di antara perupa perempuan dalam pameran itu, melainkan karena eksplorasi objek yang dia lakukan. Seniman yang mengaku baru belajar melukis selama setahun itu melukis lampu ting dari berbagai sudut maupun perspektif pada beberapa panel kanvas. Karya tersebut menjadi lebih eksotis manakala dilengkapi dengan lampu ting asli yang menyala redup di depannya. Eksplorasi serupa juga dilakukan Ragil Supadi dengan trilogi kerbaunya. Tiga perupa lain menyajikan karya yang sedikit lepas dari spektrum realis. Mereka adalah Dimas N Hadi, dan Stefani Tjandra. Dua karya Stefani bercorak impresionis. Pameran yang terselenggara berkat kerja sama Komunitas Tapak Kaki, Bilik Rupa, Komunitas Kayangan dan Museum Ronggowarsito itu layak mendapatkan apresiasi. Sebagaimana catatan yang ditoreh kurator Tubagus P Svarajati dalam katalog pameran: ''Karya-karya seniman pemamer di atas menggelorakan semangat ''kebaruan''. Setidaknya gelagat ini harus dibaca sebagai pencarian diri terus menerus pada tataran karya yang bermakna lebih dari pada cuma menampilkan kedigdayaan visual saja.'' (Rukardi-63) |