logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Agustus 2004 SALA
Line

Andreas ''Londo'' Wahyudi

Perajin Kendang yang Tak Mahir Ngendang

JANGAN heran apabila datang menjumpai Andreas Wahyudi (30) di kediamannya Kampung Karanglo, Madegondo, Grogol tidak disuguhi permainan gendang atau perkusi ala musik dangdut, latin, atau musik tradisional karawitan. Tak perlu serius berdialog dengan ayah seorang anak yang akrab disapa Londo itu soal teknik bermusik, apalagi perkusi, karena sehari-hari yang dipegang hanya palu, tatah, gergaji, kuas, dan peralatan kerja kerajinan kendang lainnya.

Kalaulah lelaki hitam manis berambut sedikit gondrong itu mengaku sejak tujuh tahun sudah mengenal berbagai alat musik perkusi, itu bukan berarti sebuah proses pemupukan bakat untuk menguasai alat musik jenis itu dalam permainan sebuah musik besar (orkestra-Red). Kalaupun pada usia 13 tahun ayahandanya yang bernama Supardi (55) membuatnya setiap hari bermain-main dengan alat-alat musik dari kayu dan kulit itu, ini bukan dalam rangka pembelajaran bermain musik.

''Saya lebih dikenalkan untuk bekerja bagaimana cara membuat sebuah kendang Jawa. Kemudian, bagaimana mengenali dan proses pembuatan jenis alat musik perkusi yang lain. Jadi, bukan bagaimana cara bermain,'' ungkap anak ketiga dari ayah yang juga perajin kendang di kampung tersebut.

Didampingi istrinya, Sri Handayani (26) yang hamil tua calon anak keduanya, Londo menjadi ingat masa lalu, kemudian mengisahkan perjalanan hidupnya ketika ditanya Suara Merdeka soal ketertarikannya menjadi perajin kendang. Di sebuah rumah yang memiliki halaman tidak begitu besar untuk ukuran kampung dekat Solo Baru itu, perajin ini termasuk sedang kebanjiran order karena halamannya penuh potongan kayu nangka, mangga, dan munggur, sedangkan teras rumahnya penuh tumpukan pesanan yang siap kirim.

Masa Sibuk

Sebagian teras dan halaman yang tersisa juga sudah habis untuk ruang gerak tiga pekerjanya yang sedang merampungkan sebuah beduk ukuran sedang atau semijumbo (garis tengah 1,10 meter dan panjang 1,25 meter). Belum lagi ruang tamu ukuran 5x5 meter yang juga penuh barang pesanan siap kirim, meja kursi tamu, serta pekerjaan memasang tali dan blengker atau ring kendang.

''Nek empun sonten ngeten niki, enggih empun sepi. Ning nek siang, enggene kebak, suarane enggih mbrebegi. Niku mawon, sedaya ngangge alat manual. Upami alat listrik, mesthi langkung gayeng,'' ujar Londo.

Memasuki bulan-bulan pada musim kemarau seperti sekarang, memang menjadi masa sibuk kerajinan kendang milik Londo. Kondisi seperti ini tidak banyak berbeda ketika dia mengikuti ayahdannya mengerjakan pesanan barang seni itu baik yang dikerjakan di rumah maupun di tempat pemesannya yang jauh di luar kota dan bahkan di luar Jateng.

Berbekal pengalaman menggarap borongan lebih kurang 100 kendang Jawa di Magetan, Jatim, serta ratusan pesanan dari Yogya dan toko-toko di Solo pada 1980-an hingga 1990-an telah menjadikan Londo paham betul apa maksud ayahandanya.

Baru belakangan anak ketiga dari lima bersaudara ini sadar bahwa ''siksaan'' yang diterima dari ayahnya hingga tidak bisa tamat sekolah SMP beberapa tahun silam telah membekalinya sebuah pengetahuan dan keterampilan yang kini bisa menopang kehidupan diri dan keluarganya hingga terbilang layak.(Won Poerwono-17j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA