| Senin, 02 Agustus 2004 | SALA |
Pasar Yaik Bakal DihidupkanBALAI KOTA - Keberadaan pusat pedagang kaki lima (PKL) Kya-kya Kembang Jepun di Surabaya, tampaknya mengilhami Pemkot Surakarta menghidupkan kembali Pasar Yaik atau pusat perbelanjaan khusus malam hari. Pemkot kini menggodok konsep dan lokasi yang cocok untuk sentra PKL tersebut. "Pemkot ingin menghidupkan kembali kegiatan semacam Pasar Yaik, yakni pemusatan PKL pada malam hari dengan penutupan jalan tertentu. Kegiatan semacam itu sudah berhasil di Surabaya dengan Kya-kya Kembang Jepunnya, " papar Kepala Badan Perencanaan Daerah (Bapeda), Ir Masrin Hadi SSos, kemarin. Lokasi yang dinilai cocok masih ada beberapa alternatif, yakni Jalan Ketandan atau depan Pasar Gede sampai Widuran dan sekitar kawasan Sorogenen. Konsepnya, pasar tersebut seperti halnya Kya-kya, yakni menutup jalan pada malam hari untuk berjualan. Namun paginya, jalan bersih seperti semula dan bisa digunakan untuk lalu lintas. Rencananya, kegiatan tersebut dikelola pihak ketiga. Pemkot hanya bertugas memfasilitasi pembentukan pusat jajan malam hari itu. Puluhan pedagang kaki lima akan ditempatkan di situ dengan beberapa persyaratan. Karena itu, Bapeda pun sudah menggelar rapat dengan instansi terkait dan Persatuan Masyarakat Surakarta (PMS). Pengelola "Kami sedang mencari konsep pelaksanaan serta siapa yang bersedia mengelolanya. Kami ingin mematangkan dulu konsep tersebut. Sasaran utama kami memang pedagang sektor informal yang tempatnya tidak menentu. Kalau dilokalisasi dan ditata dalam satu tempat, potensinya akan bisa dikembangkan," papar mantan kepala Dinas Tata Kota tersebut. Dari data yang dihimpun Suara Merdeka, Pasar Yaik pernah hadir pada era 1970-1980-an. Tercatat, pusat PKL industri hilir dan jajanan khusus pada malam hari tersebut digelar di dua tempat. Pada sekitar 1970-an, pasar itu ditempatkan di depan Pura Mangkunegaran memanjang sampai perempatan Pasar Pon. Namun, dengan pertimbangan tertentu, tempat penyelenggaraannya dipindah lagi ke jalan Apku Buwono, di sekitar Gapura Gladag sampai Alun-alun lor. Namun itu pun tak bertahan lama. Pada pertengahan 1980, pasar itu pun tak lagi ada. Masrin mengungkapkan, ada beberapa usulan mengenai nuansa yang bakal ditonjolkan dalam pusat jajan malam hari tersebut. Salah satunya dengan menonjolkan budaya China. Usulan itu dilatarbelakangi nuansa daerah sekitar Pasar Gede yang sudah kental dengan budaya China tersebut. Dalam waktu dekat, Pemkot akan melakukan studi kelayakan. Tujuannya, menentukan lokasi yang tepat untuk tempat tersebut. (G18-17i) |