| Senin, 02 Agustus 2004 | RAGAM |
TASAWUF INTERAKTIFBisikan Setan dan MalaikatT: Assalamu'alaikum Wr. Wb. Bapak Prof. Amin yang saya hormati, bagaimanakah untuk membedakan antara bisikan malaikat dan bisikan setan? Terima kasih atas jawabannya. Wassalamu'alaikum Wr. Wb. Prasetyo di Semarang J: Saudara Prasetyo yang berbahagia, dalam kehidupan kita ini, kalau boleh saya katakan, selalu diliputi oleh setan, baik yang berbentuk jin maupun manusia. Artinya, setan itu selalu bersama kita, sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Ketika bangun tidur di waktu pagi hari, misalnya, yang seharusnya cepat-cepat melaksanakan shalat subuh, tetapi yang dilakukan justru menunda-nunda shalat. Akibatnya, ketika hendak melakukan shalat, waktu subuh telah berlalu. Bahkan, ketika sedang melaksanakan shalat pun yang diingat bukan shalat itu sendiri, melainkan hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan shalat. Hal-hal ini merupakan bisikan setan yang selalu ingin menjerumuskan kita kepada perbuatan yang tidak baik atau tercela. Memang inilah tugas utama setan. Lalu bagaimana bisa membedakan antara bisikan setan dan bisikan malaikat? Pada dasarnya setan itu selalu mengajak kita untuk berbuat yang tidak baik. Jika ada bisikan-bisikan di dalam hati, dan bisikan itu jelas-jelas bertentangan dengan hati kecil kita, maka yang demikian itu adalah bisikan setan. Namun, jika bisikan-bisikan hati itu mengajak untuk berbuat baik, maka itulah bisikan kebaikan yang datangnya dari Allah swt. Dan jangan lupa, setan biasanya membisikkan sesuatu yang indah-indah dengan tujuan untuk menipu manusia agar tidak beriman kepada-Nya. Sehingga, bagi seseorang yang imannya lemah, maka ia akan terjerumus pada apa yang diinginkannya. Firman Allah: ''Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan'' (QS.al-An'am:112). Berdasarkan ayat di atas, jelas bahwa setan mempunyai cara yang paling efektif untuk menjerumuskan manusia ke jalan yang dikehendakinya. Yakni, dengan cara memberikan ''iming-iming'' terutama yang indah-indah dan secara logika masuk akal. Bahkan sebagai suatu perbuatan yang baik. Kita masih ingat, misalnya, bagaimana setan mampu menjebak Nabi Adam untuk memakan buah khuldi. Ini sebagaimana terdapat dalam QS.Thaha/20:120, yang artinya: ''Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: ''Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?'' Berdasarkan ayat ini, setan dengan kemampuan yang dimilikinya dapat mengelabuhi Nabi Adam dan ia pun memakan buah khuldi (sajarah al-khuldi) itu. Menurut bisikan setan, jika Adam memakan buah khuldi itu, maka ia akan kekal dan tidak akan mati untuk selama-lamanya. Harus kita akui bahwa memang sulit untuk membedakan, mana bisikan setan dan mana bisikan malaikat. Apa yang kita anggap benar dan indah bagi kita, bisa jadi itu adalah bisikan setan. Sebaliknya, apa yang kita anggap buruk dan merugikan kita, kadang sebagai suatu kebenaran. Namun, kita harus tetap yakin, bahwa suara hati nurani adalah suara kebenaran. Wallahu A'lam.(35) |