| Senin, 02 Agustus 2004 | PANTURA |
Pekalongan Juga Penghasil Tenun Eceng Gondok dan Akar WangiKOTAPekalongan, terkenal dengan sebutan Kota Batik. Itu, dibuktikan dengan banyaknya warganya yang menekuni batik sebagai mata pencaharianya. Berbagai corak dan warna batik, mudah ditemukan seperti di Grosir Setono, yang merupakan kompleks penjualan batik. Orang dengan mudah bisa mendapatkan berbagai macam batik, baik yang berbahan sutra maupun kain biasa dengan jenis cap, printing, dan tulis. Selain batiknya yang menonjol, di Kota Pekalongan juga berkembang kerajinan tekstil yang dikembangkan oleh industri rumah tangga yang telah berumur seratusan tahun lebih. Salah satunya adalah kerajinan di Desa Pakubulan, Kecamatan Buaran, yang dikenal dengan nama kerajinan akar wangi dan enceng gondok. Perkembangan dari kerajinan tersebut sangat pesat. Produk yang dihasilkan pun telah menjadi salah satu produk kompetitif, yang tidak hanya terkenal di pangsa pasar dalam negeri, melainkan juga telah merambah sampai keluar negeri, khususnya kawasan Asia. Bahan tenun dari akar wangi yang dipadukan dengan enceng gondok, ternyata menghasilkan produk yang mengandung nilai seni tinggi; serta bau harum yang keluar dari akar wangi, menambah daya tarik tersendiri. Sehingga dalam waktu relatif singkat, kerajinan itu berkembang pesat, dan dijadikan sebagai sumber mata pencaharian oleh penduduk setempat. Untuk mengikuti perkembangan pasar, bentuk produk yang dihasilkan dikembangkan menjadi berbagai jenis seperti tas, kerai, alas meja, sajadah , alat pelengkap rumah tangga, dan aksesoris yang lain. Produk tersebut banyak diminati oleh pembeli luar negeri, seperti Jepang, Malaysia, Australia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait. Maju Pesat Menurut Imron Mina (38), pemilik Pirsa Art yang menekuni kerajinan tenun berbahan enceng gondok dan akar wangi sejak 1998 itu, kerajinan yang digelutin banyak mengalami kemajuan secara pesat. ''Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, prospeknya semakin menjanjikan,'' katanya. Saat ini, kata dia, dirinya mendapatkan pesanan dari Taiwan berupa tas, kerai, alas meja, dan korden dengan nilai Rp 500 juta. Selain itu, juga masih menerima pesanan-pesanan dari dalam negeri, seperti Surabaya, Bali, Yogyakarta, dan Solo. Untuk tenaga kerja, dia merekut pemuda-pemudi yang menganggur di daerahnya dengan upah antara Rp 200 ribu sampai-Rp 500 ribu per bulan. Sedangkan untuk menjalankan mesin tenun, sebanyak 65 pekerja setiap hari bisa menghasilkan setidaknya 3.000-4.000 meter bahan akar wangi yang siap diolah menjadi produk. ''Dengan banyaknya pesanan, baik dari dalam maupun luar negeri, saya melibatkan pemuda-pemudi yang menganggur untuk membantu proses pembuatanya guna memenuhi pesanan yang terus mengalir,'' tambahnya. Kerajinan akar wangi dan enceng gondok masih diproduksi secara tradisional, dengan menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM). Untuk bahan baku alam -yaitu akar wangi-, didatangkan dari Garut Jawa Barat; sedangkan eceng gondok, didatangkan dari Ungaran, Kabupaten Semarang. Lebih lanjut dia menjelaskan, prospek kerajinan enceng gondok dan akar wangi sebenarnya sangat bagus jika didukung dengan sistem pemasaran yang profesional dan promosi yang digalakkan secara terencana. ''Strategi pemasaran yang kami lakukan masih bersifat sederhana; andaikan dikelola dengan baik dan profesional, sangat baik sekali prospeknya,'' ujarnya. Untuk melakukan pembenahan dari sisi manajemen, Imron mengaku sudah mulai mencoba dengan mengadakan perubahan secara perlahan-lahan. Bentuk perubahannya sendiri berupa perekrutan tenaga-tenaga profesional, untuk menangani usaha yang digelutinya. ''Jika kerajinan akar wangi dan enceng gondok di Desa Pakumbulan telah mencapai 1.000 lebih mesin tenun dan menyerap ribuan pekerja, usaha tersebut dapat lebih dikembangkan untuk ikut menyejahterakan warga di Kota Santri,'' imbuhnya. (Wawan Hudiyanto-34a) |