| Senin, 02 Agustus 2004 | PANTURA |
Sekolah Bersedia Terima ''Melati''
BATANG- Keinginan Melati (14) -nama samaran- warga Watesalit, Batang yang melahirkan bayi karena dihamili bapak kandungnya yang tuna netra, Kuntoro, mendapat tanggapan serius oleh pihak sekolah tempat dia menuntut ilmu. Sekolah itu bersedia menerimanya kembali melanjutkan belajar. ''Kami sudah rapat dengan teman-teman, baik guru kelas maupun BP, sepakat membantu Melati sekolah kembali. Bahkan, belum lama ini kami memberikan bantuan uang Rp 800.000 untuk biaya persalinan,'' ujar Kepala SMP Negeri terkemuka di Batang, Sugito SPd. Kronologis terkuaknya kasus Melati itu bermula saat Sugito didatangi tamu dari warga Watesalit yang didampingi Kepala Kantor Kelurahan Tohirin SH MSi. Keduanya menyatakan curiga terhadap pertumbuhan badan Melati. Putri kedua pasangan Kuntoro dan (Alm) Ny Mubariyah, meninggal 1999 itu, badannya kelihatan gemuk. Atas laporan itu, guru memanggil Melati untuk mengorek kejadian yang menimpa dirinya. ''Semula dia tak mengaku, baru sekitar pukul 15.00 setelah saya sadarkan, dia mengakui dihamili bapaknya,'' ujar Sugito. Sekolah kemudian memeriksakan air seni Melati ke laborat. Betapa terkejutnya pihak guru membaca laporan hasil pemeriksaan, ternyata Melati sudah hamil 24 minggu. ''Saat itu saya tidak percaya, untuk kepastian, Melati kami periksakan ke dokter kandungan terkenal di Pekalongan. Barulah kami percaya kalau dia benar-benar hamil,'' ujar Kasek SMP terkemuka di Batang itu. Pihak sekolah kemudian mengadakan rapat yang hasilnya mengeluarkan Melati dari sekolah. Dasarnya, meskipun dia menjadi korban, dinilai telah melanggar peraturan sekolah. ''Di sekolah kami menerapkan kedisiplinan. Anak yang rambutnya gondrong saja, pasti dipotong oleh guru. Siswa yang tidak masuk kami kontrol. Melati hamil masak tidak dikeluarkan, bisa-bisa kalau tidak diambil tindakan tegas separo murid kami bisa hamil semua,'' papar Sugito. Namun, dia menjelaskan, dikeluarkanya Melati itu semata-mata untuk melindungi tekanan mental dan psikologis. Sebab usia kandungan yang sudah besar dan perut yang membuncit. ''Secara logika, anak sekolah SMP hamil itu tentunya menanggung malu. Karena itu, kami sepakat untuk mengeluarkan dari sekolah ini demi dia sendiri dan nama baik sekolah, dengan catatan tetap akan kami bantu.'' Sugito menyayangkan keluarga Melati yang tidak memberi tahu kepada sekolah tentang perkembangan kehamilannya. Bahkan hingga melahirkan sampai anaknya meninggal pun tidak tahu. (ar-15r) |