| Senin, 02 Agustus 2004 | PANTURA |
Klidangwetan Sentra Pengolahan Kerang LautHASIL laut yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat adalah ikan. Padahal, masih banyak potensi lainnya yang bisa dimanfaatkan, dan mempunyai prospek cerah. Kerang laut yang biasanya dijumpai di warung-warung, khususnya "Warung Lamongan" di pinggir jalan raya, merupakan hasil laut yang belum banyak disentuh secara profesional. Padahal, bisnis kerang laut memiliki prospek cerah dan menggairahkan. Selain itu, nelayan biasanya mendapatkan kerang-kerang tersebut di tepi laut atau di sekitar pantai, sehingga tidak terlalu menimbulkan bahaya pada waktu mencari. Salah satu sentra pengolahan kerang laut di Kabupaten Batang, adalah di Desa Klidangwetan. Di kampung nelayan Kecamatan Batang itu, pengolahan kerang menjadi primadona masyarakat, karena dimanfaatkan istri nelayan yang ditinggalkan suaminya melaut untuk menambah penghasilan. Menurut Ny Kunai (50), dia telah menggeluti usaha pengolahan kerang selama 20 tahun lebih bersama suami, Mas'ud (55). "Mengolah kerang sebenarnya tidak repot dan sangat mudah. Selain itu, pembelinya banyak yang datang sendiri." Selama kurun waktu 20 tahun itu, dia sudah menjadi langganan warung masakan laut (sea food) dari berbagai kota, seperti Pekalongan, Batang, dan bahkan Semarang. Karena banyaknya permintaan itu, dia kini sudah banyak memperkerjakan karyawan untuk mengolah hasil laut tersebut. Jumlah pekerja yang ada sekarang ini sudah ratusan, kebanyakan dari adalah para istri dan anak-anak nelayan. Mereka rata-rata sehari bekerja kurang lebih 5-8 jam, dan penghasilannya bergantung pada banyaknya kerang yang berhasil dikupas. Untuk satu kilogram kerang yang dikupas, upahnya Rp 500 untuk kerang ukuran besar; sedangkan untuk kerang kecil, upahnya Rp 2000 per kilogramnya. "Rata-rata, setiap hari kami bisa menghasilkan sekitar tujuh kuintal daging kerang yang sudah dikupas dengan harga Rp 7.500 per kg. Sehingga setiap harinya, paling tidak bisa mendapatkan uang sebesar Rp 5 juta," ujar Ny Kunai. Dia menjelaskan, untuk mendapatkan bahan baku kerang saat ini tak ada kesulitan, karena kerang itu di dapat dari para nelayan dari pesisir Batang sendiri. Selain itu, juga mendapatkkan pasokan dari daerah lain, seperti Asem Doyong, Kabupaten Pemalang. "Tapi sekarang ini, justru kami mendapat pasokan kerang dari Lampung, karena dari Batang maupun Asem Doyong sedikit." Namun, usahanya bisa tetap jalan karena sekarang ini sedang banjir pasokan kerang dari Lampung. Di daerah yang terkenal dengan penangkaran gajah di Waya Kambas itu, menurut Ny Kunai, sedang musim kerang, sehingga para nelayannya menjual hasil kerangnya ke Batang. Hal itu tentu saja disambut gembira, karena menguntungkan, mengingat saat ini pasokan kerang dari nelayan Batang sedang sedikit. Selain itu, juga ada perbedaan antara kerang dari Batang dengan kerang dari Lampung. "Kerang dari Lampung itu jauh lebih besar dibandingkan kerang dari Batang," papar Karnoto (35), adik Ny Kunai. (Arif Suryoto-34a) |