| Senin, 02 Agustus 2004 | PANTURA |
Besok Wika Dibawa ke RS ElisabethBREBES-Wika Aveliana, bayi berumur empat bulan yang mengidap penyakit hydrocephalus (kepala membesar), warga Desa Bulakamba, Kecamatan Bulakamba, Brebes, Selasa besok (3/8) akan dibawa keluarganya ke RS Elisabeth Semarang untuk menjalani operasi. Kepastian tersebut disampaikan Ketua LSM Lembaga Pengembangan Agrobisnis Pedesaan (LPAP), Duryani, yang ikut membantu memperjuangkan operasi anak ke-8 pasangan Dahuri-Waryunah tersebut. Untuk keperluan keberangkatan ke Semarang, orang tua Wika sudah menerima dana bantuan biaya transportasi dan keperluan lain selama di Semarang dari Kantor Sosial Kabupaten Brebes. Sesuai rencana, bocah itu akan menjalani operasi di RS Elisabeth atas biaya Yayasan Penanganan Penderita Hydroceplhalus. Eka, salah seorang dari pengurus yayasan tersebut sebelumnya melalui Suara Merdeka menawarkan operasi gratis, termasuk biaya perawatan di rumah sakit. Menurut Duryani, kemarin, keberangkatan Wika ke Semarang sempat tertunda, karena orang tuanya harus mengurus surat rujukan dan surat lain dari desa, bahwa dia keluarga tidak mampu. Karena orang tua bocah itu bekerja di Jakarta, dialah yang mengurus segala keperluannya. Orang tua Wika bekerja menjadi sopir bajaj. Melihat kondisi sosial ekonomi keluarga tersebut, Duryani mengaku ikut prihatin. Karena itu, dia meminta apabila ada dermawan yang ingin mengulurkan bantuan, dia siap untuk menyalurkan kepada yang bersangkutan. ''Dahuri punya delapan anak. Mereka benar-benar dari keluarga tak mampu. Apabila ada yang mau membantu biaya keperluan selama di Semarang, itu sangat ditunggu,'' paparnya. Bingung Ny Waryunah, istri Dahuri mengatakan, selama empat bulan terakhir ini ia bingung dengan kondisi anaknya. Sebab, sejak lahir 3 April lalu, batok kepala Wika terus membesar. Dia tidak mampu berbuat banyak, ketika dokter RSU Brebes menyarankan agar anak ke-8 yang mengidap penyakit hydrocepalus tersebut harus dioperasi di Semarang. ''Saya dapat uang dari mana? Untuk biaya bersalin saja, waktu itu harus utang ke tetangga, sedangkan ayahnya menyerah, karena tidak punya uang,'' katanya ketika ditemui di rumahnya. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, dia hanya mengandalkan penghasilan suami yang bekerja sebagai sopir bajaj di kota metropolitan Jakarta. Kepala Kantor Sosial, Drs Moch Ramdhon kemarin mengatakan, Pemkab sangat merespons penderitaan yang dialami keluarga Dahuri. Karena itu, dia menyampaikan terima kasih kepada yayasan yang akan menangani operasi Wika. Sebagai bentuk perhatiannya, Pemkab akan membantu dana Rp 1 juta untuk biaya tranportasi ke Semarang dan keperluan lain bagi keluarga penderita tersebut.(wh-42a) |