| Senin, 02 Agustus 2004 | PANTURA |
Pantang Menyerah Memajukan IndustriNYONYA Tatiek Adi Winarso, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Tegal, tidak pantang menyerah membangkitkan semangat para perajin untuk meningkatkan kualitas produk. Buktinya, dia sangat selektif dalam memamerkan hasil kerajinan khas Kota Bahari itu di ruang pamer Pusat Promosi dan Informasi Bisnis (PPIB). "Memang secara resmi PPIB itu sebenarnya belum difungsikan, maka kalau ada kritikan bahwa PPIB itu masih ada kekurangan sarana fasilitas, wajar saja. Kendati demikian, kami tetap bertekad bagaimana caranya hasil kerajinan khas Tegal itu bisa tampil di tengah masyarakat luas," katanya, kemarin. Dia mengatakan, jika kelak gedung yang berada di Jalan Kol Sugiyono itu dibuka secara resmi, ruang pamer itu akan dimanfaatkan untuk menampung hasil kerajinan lokal. Berdasarkan data Dekranasda, terdapat 200 lebih perajin yang cukup berpotensi untuk ditampilkan. Produk kerajinan yang dihasilkan itu antara lain batik jumputan, batik tulis, dan cenderamata. Meski demikian, dia mengingatkan, hasil-hasil kerajinan yang akan ditampilkan tentu saja memiliki kualitas yang baik. "Jelas, saya tidak ingin hasil kerajinan khas Tegal itu digarap asal-asalan. Selain menjaga kepercayaan konsumen, hal itu juga akan membawa nama baik Tegal di luar daerah," tandasnya. Lantas bagaimana strategi Dekranasda untuk mengangkat perajin kecil? Menurut pendapat Tatiek yang juga istri Wali Kota Tegal itu, pihaknya menyediakan ruang pamer di PPIB secara gratis. "Konkretnya, hasil kerajinan mereka kita pamerkan kepada pengunjung dengan harapan dikenal konsumen. Nah, dari sana jika ada yang berminat bisa mendatangi langsung ke sentra-sentra industri. Dari situlah kelak antara perajin dan konsumen bisa melakukan transaksi penjualan," jawabnya. Dia juga berharap PPIB yang dibangun dengan biaya Rp 2,1 miliar itu benar-benar bisa bermanfaat bagi perajin asli Tegal. Pola pemasaran kelak juga akan berubah dari yang bersifat door to door menjadi semimodern. "Mereka yang selama ini kita bina untuk terus mengembangkan produk itu tidak sia-sia. Selama ini persoalan yang mereka hadapi adalah kesulitan pemasaran. Semula mereka hanya mengandalkan pasar tradisional. Ke depan, kami akan melengkapi pemasaran yang bersifat promotif," tandasnya. (Dwi Ariadi-42n) |