| Senin, 02 Agustus 2004 | WACANA |
|
SOSOK
Ingin Tukar Tempat Tugas Mengajar Saya PNS guru bidang studi Sejarah pada SMA Negeri I Mojotengah Wonosobo yang asalnya dari Kulonprogo DI Yogyakarta. Saya ingin tukar tempat tugas mengajar kepada PNS yang berasal dari Wonosobo dan kini bekerja sebagai PNS guru pada SMAN/SMPN/SMEAN/STMN/MTsN/MAN/guru SMA atau SMP DPK di wilayah DI Yogyakarta (Kulonprogo, Sleman, Bantul, Kota Yogyakarta). Sedang jurusan bidang studinya bebas (Sejarah, Bahasa Indonesia, Ekonomi Akuntansi, Olahraga; PPKn, Geografi, Fisika, Kimia, Biologi, Bahsa Inggris, Matematika dan lain-lain). Bila di antaranya ada yang memenuhi kriteria seperti tersebut, mohon bisa menghubungi saya. Anda bisa kembali ke Wonosobo dan saya juga pulang ke Kulonprogo. Drs Sukandar HF Guru SMAN 1 Mojotengah Mudal, Wonosobo *** Jl Jend Sudirman Searah Tidak Populis Suara Merdeka beberapa waktu lalu memuat berita tentang kemacetan Jl Jendral Sudirman Salatiga dan akan dibuat searah. Wacana yang dikemukakan pejabat kepala Kantor Transportasi dan Perparkiran itu saya nilai sia-sia dan cost-nya terlalu besar. Kota Salatiga berpenduduk 159.000 jiwa (waktu malam) atau pada siang lebih dari 250.000 jiwa (mengutip istilah dari Ketua Bappeda) terasa amat riskan jika jalan tersebut dibuat searah. Dari selatan ke utara atau sebaliknya jelas tidak akan mernecahkan kemacetan pada jam-jam tertentu. Dengan melihat kondisi riil sepanjang pagi, siang dan sore hari maka untuk mengatasi kemacetan pada seluruh ruas jalan dan trotoar, menurut saya harus ada keberanian moral dan penegakan aturan yang dimotori para pejabat beserta seluruh staf. Sebenarnya mengatasi kemacetan cukup sederhana dan tidak perlu mengundang planolog. Jalan Sudirman tetap lancar dan bisa 2 arah. Syaratnya hanya satu, yakni sepanjang ruas jalan dan trotoar dilarang untuk berjualan. Baik menggunakan mobil box terbuka, pakai tenda, gerobak dorong atau semacamnya. Bukankah PKL sudah disediakan tempat usaha yang representatif. Tinggal mengoptimalkan dan menyosialisasikan kepada para pedagang. Keberadaan mereka yang menempati ruas jalan menurut saya juga menyulitkan kendaraan yang akan parkir. Ketidaksetujuan saya jalan dibuat searah juga karena jalan sudah dibuatkan pembatas permanen dan telah menghabiskan anggaran ratusan juta atau bahkan miliaran rupiah. Dengan keseriusan aparat dan kesadaran PKL kesemrawutan jalan akan dapat diatasi. Di samping itu dengan otonomi daerah, para PKL yang berasal dari luar Kota Salatiga perlu diarahkan wajib mematuhi aturan dalam mencari nafkah di Kota Hatti Beriman. Jangan sampai berjualan di sepanjang jalan tersebut. Dengan pola pendekatan yang humanistis dan meninggalkan sifat arogansi oleh pelaksana di lapangan, kemacetan sepanjang pagi, siang dan sore di jalan tersebut tidak akan terjadi. H Muhammad Djam'an Jl Abdul Syukur 65 Mangunsari, Salatiga *** Sulit Air di Tanah Mas Saya warga Tanah Mas Semarang menginformasikan pada PDAM Kota Semarang karena selama dua bulan terakhir ini warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Air PDAM yang keluar tersendat-sendat, apalagi dalam dua minggu terakhir. Saya terpaksa harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mohon tanggapan dari pihak terkait untuk menyelesaikan masalah ini, mengingat air bersih adalah kebutuhan penting bagi warga. Inez Ayunine Ch Jl Kalimas I/22, Semarang *** Poster dan Iklan Liar Pak Wali Kota, saya ingin tanya iklan/poster yang saling tumpang tindih di pagar dan tembok di pinggir jalan legal atau tidak ?.Kalau legal mohon ditertibkan penempelannya. Kalau ilegal mohon dibereskan/dicabut. Karena menurut saya pemasangan iklan/poster yang sembarangan merusak pemandangan dan merugikan pemilik bangunan. Saya usul, bagaimana kalau perusahaan penempel poster tersebut dikenakan pajak (bila tidak membayar pajak) sehingga Pemkot tidak rugi dan kasnya bertambah untuk keperluan melayani masyarakat. Atau Pemkot membuat larangan menempelkan poster/iklan secara liar. Ardhian S Payng Asri Slt II/18, Semarang *** Kepada Ka Dinas Peternakan Jateng Saya bangga membaca berita 23 Juli 2004 tentang lomba agribisnis peternakan, di mana kelompok tani sapi potong "Sato Rahayu" Desa Mipiran Purbalingga terpilih sebagai duta Jateng ke tingkat nasional. Semoga di bawah bimbingan Kadinas Peternakan Jateng Bp Drs H Sugiyono Pranoto, kelompok ini menjadi juara. Namun di sisi lain saya selaku warga Purbalingga yang lebih dari 20 tahun menggeluti bidang peternakan khususnya sapi potong mohon penjelasan. Pada kalimat terakhir berita tersebut Bapak menguraikan tentang pengolahan kotoran sapi dengan teknologi yang ditemukan oleh Unsoed. Dengan pengolahan tersebut masing-masing petani ternak dalam satu tahun akan mendapat tambahan penghasilan Rp 7,3 juta. Jumlah yang sangat fantatis. Apakah sudah melalui penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan atau berdasarkan pengalaman. Atau hanya harapan/angan-angan, sekadar untuk konsumsi tim penilai nasional agar daerah kami terangkat. Sebagai bahan pembanding, pengalaman saya dalam penggemukan sapi di Purbalingga rata-rata keuntungan tiap tahun hanya berkisar antara Rp 1,5 juta - Rp 2,5 juta/ekor. Saya harap pernyataan Bp tersebut betul-betul dapat dipertanggungjawabkan agar petani ternak merasa terbina. Selama ini pemyataan pejabat kebanyakan hanya untuk kesenangan atasan tapi membodohi masyarakat. Anjuran/saran setelah dilaksanakan tidak sesuai dengan yang disampaikan sehingga masyarakat kurang percaya pada Pemerintah. Soedino SE Karangsentul Rt 3/Rw 2 Padamara, Purbalingga *** Kantor Pos Mayong Rasanya semua sopir angkot Kudus - Jepara banyak yang tak paham letak kantor Pos Kecamatan Mayong Jepara. Sebab banyak penumpang angkot minta turun di kantor Pos Mayong sering diturunkan sampai di depan pasar. Saya menduga hal tersebut terjadi karena letak kantor Pos terlalu menjorok ke dalam, tidak sederet dengan bangunan di tepi jalan raya. Jadi rasanya kurang dipahami para sopir. Saya imbau kepada pimpinan Pos Jepara segera membuat papan nama kantor Pos Mayong yang besar. Dengan demikian para sopir angkot akan paham letak kantor tersebut. Rumah makan H Ismun saja pakai lebel besar, kok kantor Pos Mayong tidak. Amar Makruf Purwogondo, Kalinyamat, Jepara |