| Senin, 02 Agustus 2004 | SEMARANG |
Pengantin Massal Diarak KelilingWAJAH enam pasang pengantin yang dinikahkan secara massal di serambi Masjid Agung Demak itu memang sedikit tegang. Namun mereka tetap tersenyum bahagia. Sebab prosesi pernikahan mereka dirawuhi beberapa kiai karismatik di Kota Wali, Demak. Selain itu waktu pelaksanaannya pun tergolong istimewa. Ya istimewa, sebab acara sakral itu bertepatan dengan peringatan Haul Agung pertama wafatnya Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayyidin Panotogomo ke-486 M/ 501 H, tahun 2004. Sebelum pernikahan massal itu digelar, keenam pasangan pengantin sempat diarak keliling Kota Demak menumpang dokar. Mereka pun larut dalam suasana kebahagiaan arak-arakan karnaval "Panjang Jimat" yang menempuh rute Masjid Agung Demak - Pecinan - depan Kodim 0716 Demak - Jl Kiai Singkil - perempatan Jl Bhayangkara belok kiri - Jl Sultan Fatah - Alun-alun Demak, dan kembali ke Masjid Agung Demak. Ikut menyemarakkan karnaval itu, grup drum band SD Bintoro 5 Demak, MTs NU Demak, MTs Takhasus Desa Serangan, Bonang, kelompok terbangan, mobil pembawa miniatur Masjid Agung Demak, serta barisan santri. Dalam arak-arakan itu juga terdapat 75 anak peserta khitanan massal. Anak-anak itu mengenakan baju koko, berpeci, dan bersarung, menumpang becak keliling kota. Para peserta khitanan massal itu umumnya dari keluarga kurang mampu. Sebagian lagi dari keluarga mampu, tetapi ingin mendapatkan karamah dalam Haul Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayyidin Panotogomo. Prosesi pernikahan massal di Serambi Masjid Agung Demak itu dihadiri Ketua Umum Haul Agung Sultan Fatah, sekaligus Ketua Takmir Masjid Agung Demak Drs H Bambang Sugito TH, KH Muzazin Munawar, dan KH Musyafak Ahmad selaku Imam Besar Masjid Agung Demak, para wali mempelai pengantin, wali dari KUA, serta masyarakat Demak. Mengundurkan Diri Seksi Sosial Takmir Masjid Agung Demak, Abdul Fatah menjelaskan, sebenarnya ada tujuh pasang pria-wanita yang mengikuti pernikahan massal itu. Namun ada satu pasangan pengantin mengundurkan diri karena menganggap pernikahan massal itu acara bagi keluarga miskin. "Padahal, pengertian sebenarnya bukan demikian. Pernikahan massal ini sebagai rangkaian peringatan Haul Agung wafatnya Sultan Fatah," kata Abdul Fatah. Keenam pasangan pengantin itu yakni Sugiyono dan Nur Susanti (warga Katonsari,Demak), Oktova Aditya Ary Purnama dan Tri Febsah (Desa Mangunjiwan), Sanadi dan Sumber (Desa Kerang Kulon,Wonosalam), Ridwan dan Puryanti (Desa Kerang Kulon, Wonosalam), Beni dan Ngatmi (Irian dan Gajah,Demak), serta Sumarto dan Sudarmi (Purwodadi dan Desa Merak, Dempet). Di tengah prosesi itu, Drs H Bambang Sugito TH memberikan ular-ular bagi keenam pasangan nikah massal. Dalam khotbah nikah , KH Musyafak Ahmad menyatakan, pernikahan untuk menjunjung tinggi syariat Islam sehingga terhindar dari hal-hal yang dilarang agama. Selain itu pernikahan merupakan ikatan pria dan wanita untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani. Acara selanjutnya dilanjutkan ijab kabul, pembacaan doa, dan sighot ta'liq. (Arwan Pursidi-64i) |