logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Agustus 2004 SEMARANG
Line

Ribuan Santri Padati Haul Agung Sultan Fatah

DEMAK- Ribuan santri dan ulama membanjiri puncak peringatan Haul Agung Pertama Kanjeng Sultan Raden Abdul Fattah Al Akbar Sayyidin Panotogomo Ke-486 M/501 H, tahun 2004, Sabtu petang (31/7) di depan Masjid Agung Demak.

Haul Agung memperingati wafatnya Sultan Fatah, pendiri Kerajaan Islam pertama di Demak Bintoro itu, juga diisi dengan pengajian akbar oleh Rois Syuriah NU Jawa Timur KH Drs Masduki Mahfudz dan KH Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan Jawa Tengah.

Ikut menghadiri acara itu, Bupati Dra Hj Endang Setyaningdyah MM dan Muspida, Kepala Biro Umum Setda Pemprov Jateng Drs Warsono mewakili Gubernur Jateng, Kabiro Bina Mitra Polda Jateng Kombes Mustain Suntono mewakili Kapolda, Asisten Perencanaan PangdamIV/Diponegoro Kolonel TNI Rahyanto mewakili PangdamIV/Diponegoro, dan pejabat Kanwil Depag Jateng.

Tak ketinggalan, Ketua Umum Takmir Masjid Agung Demak Drs H Bambang Sugito TH beserta segenap panitia Haul Agung, Imam Masjid Agung Demak KH Muzazin Munawar dan KH Musyafak Ahmad, serta para ulama dan kiai di Kota Wali.

Ketua Umum Panitia Haul Agung, Drs H Bambang Sugito TH menjelaskan, acara akbar itu terselenggara karena banyaknya saran dari ulama untuk memperingati haul wafatnya Sultan Fatah. Selain itu, juga didasarkan pada hasil seminar pada 29 Mei 2004 yang diikuti sejumlah pemangku makam aulia dan pakar sejarah. Yaitu penemuan hari kewafatan Sultan Fatah, pendiri Kerajaan Islam di Demak.

"Hari wafatnya Sultan Fatah pada Senin Kliwon, 21 Juni 1518 M, atau 13/14 Jumadil Akhir 924 H. Karena itu pada hari itu merupakan haul ke-486 M/501 H yang pertama kali diselenggarakan secara resmi di Kota Wali," kata Bambang Sugito.

Kenang Sejarah

Sementara itu penyelenggaraan Haul Agung pertama Sultan Fatah itu bertujuan mengenang kembali sejarah kebesaran dan kejayaan Islam. Apalagi Sultan Fatah merupakan pendiri Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa, bahkan di Indonesia.

Di samping itu sebagai reaktualisasi pendalaman ajaran Islam. Hal itu dapat dilakukan dengan melihat perjuangan dakwah Islam Sultan Fatah beserta Wali Sembilan (Wali Sanga). Ini perlu dijadikan tonggak sejarah baru umat Islam di Indonesia.

"Setidaknya, harapan yang ingin dicapai, yaitu memasyarakatkan pola pikir dan pola laku bahwa Sultan Fatah itu seorang ulama yang umara, sekaligus umara yang ulama," ungkap Bambang Sugito yang juga Ketua Umum Takmir Masjid Agung. (F2-84i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA