logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Agustus 2004 SEMARANG
Line

16.100 Orang Diduga Menderita TB Paru

  • Dikembangkan Pola Kemitraan

GROBOGAN -Berdasarkan rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO), prevalensi (jumlah keseluruhan kasus yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) TB Paru mencapai 115 penderita untuk setiap 100 ribu jiwa dari jumlah penduduk.

Padahal penyakit tersebut menempati urutan kedua penyebab kematian penduduk dunia (termasuk Indonesia) setelah penyakit jantung.

"Artinya, jika penduduk Kabupaten Grobogan saat ini sekitar 1,4 juta jiwa, berarti ada 16.100 jiwa yang patut diduga mengidap TB paru," kata Bupati Grobogan H Agus Supriyanto SE dalam pertemuan koordinasi lintas sektor dan sosialisasi dan pengendalian faktor risiko penyakit di Gedung Ripataloka Pemkab Grobogan, kemarin.

Dia menjelaskan, hal itu patut dipertimbangkan sebab banyak kasus kegagalan pengobatan penderita TB Paru. Sebab, kebosanan penderita dalam meminum obat. Padahal, pemerintah sudah menyubsidi setiap penderita nilainya mencapai Rp 1 juta.

Karena itu, lanjut Bupati, masyarakat dituntut untuk proaktif dalam proses penemuan dan pengobatan penderita penyakit tersebut.

Selain itu, pengobatannya juga memerlukan dukungan keluarga penderita, seperti pemberian motivasi. Dengan demikian, muncul kedisiplinan dalam meminum obat.

"Itu perlu diwujudkan, sebab proses pengobatan penderita TB Paru membutuhkan waktu sekurang-kurangnya 6 bulan. Selain itu, juga perlu dibarengi dengan gizi yang memadai dalam penyajian makanan sehari-hari."

Dia berharap kepada lintas sektoral terkait dan oganisasi kemasyarakatan termasuk LSM bisa menjadi mitra yang baik dalam program kemitraan.

"Saya minta mereka memberikan kontribusi menurut kemampuan dalam peran dan fungsi masing-masing sesuai dengan parameter yang disepakati," ujarnya.

Konsep pembangunan kesehatan dengan mengembangkan pola kemitraan ini diharapkan menjadi strategi operasional yang efektif.

Perlu disadari, paradigma sehat untuk waktu kedepan tidak lagi mengutamakan pelayanan kesehatan pada aspek kuratif dan rehabilitatif, tetapi harus dititikberatkan pada aspek promotif dan preventif. (H3-84i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA