logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Agustus 2004 SEMARANG
Line

Anggaran Penelitian Rob 2005

BALAI KOTA- Bappeda Kota Semarang akan mengajukan anggaran penelitian untuk mengetahui penyebab rob pada tahun anggaran 2005. Hasil penelitian itu akan dipadukan dengan rencana induk (masterplan) drainase yang disusun pemerintah.

Hal itu disampaikan Kasubid Pengembangan Kawasan Bappeda Kota Semarang Ir M Farchan, Minggu (1/7). Hasil-hasil penelitian dan masterplan drainase itu nanti juga dijadikan patokan perencanaan tata ruang.

Dia mengatakan, penanganan rob saat ini cenderung parsial. Padahal masalah tersebut terkait dengan berbagai aspek, termasuk kondisi drainase, penurunan tanah, serta masalah-masalah sosial. ''Karena itu, penanganan rob harus dilakukan secara menyeluruh dan detail,'' ingat dia.

Menurut dia, masalah rob merupakan masalah serius yang mesti mendapat perhatian semua pihak. Kecenderungan berbagai pihak yang saling menyalahkan, justru merupakan sikap yang tidak produktif.

Seperti diberitakan sebelumnya, anggota Komisi D DPRD Kota Semarang H AY Sujiyanto meminta Pemkot memprioritaskan penelitian tentang rob dan penurunan tanah di wilayah pesisir. Dia menyatakan, penelitian menyeluruh semacam itu selama ini belum pernah dilakukan sehingga konsep penanganan rob di Kota Semarang pun tidak jelas.

Murah

Secara terpisah Ketua I Lembaga Masyarakat Peduli Banjir dan Lingkungan (LMPBL) Dr Ir Nelwan Dipl HE mendukung upaya Pemkot meneliti hal semacam itu. Dia menyarankan penelitian harus mencakup aspek geologi, hidrologi, dan topografi. Juga aspek-aspek sosial yang berkaitan dengan rob.

''Tiga tahun lalu penelitian itu saya perkirakan menelan dana sekitar Rp 8 miliar. Kalau sekarang mungkin minimal Rp 10 miliar karena melibatkan banyak pihak,'' kata dia.

Namun, dana sebesar itu, menurut dia masih murah. Sebab aset yang terkena ancaman rob dan penurunan tanah bisa mencapai triliunan rupiah. Belum lagi kerugian yang ditanggung masyarakat akibat hal tersebut.

Dia pun mengakui, selama ini banyak pihak mengeluarkan pendapat masing-masing tentang rob. Namun berbagai pendapat itu tidak didasarkan pada studi ilmiah. Beberapa pendapat itu belum bisa disebut sebagai hipotesis sebab tidak berdasarkan kerangka teori yang ada.

Karena itu kemudian munculah beragam pendapat yang sebagian memiliki tendensi menyalahkan pihak-pihak tertentu. Ada yang berpendapat , reklamasi menyebabkan rob. Ada pula yang mengatakan, gejala alam itu akibat penurunan tanah, pengambilan air tanah, dan terganggunya keseimbangan garis pantai.

Hasil penelitian yang dilakukan Pemkot diharapkan bisa menyimpulkan penyebab rob, sedangkan penyusunannya dalam peringkat-peringkat. Penyebab utamanya harus menjadi prioritas Pemkot untuk ditangani terlebih dulu.

''Kalau memang reklamasi yang menjadi penyebab rob, kegiatan itu harus dihentikan. Namun kalau penyebabnya ternyata pengerukan pelabuhan, pemerintah juga harus berani mengambil tindakan,'' kata dia.

Terkait dengan ancaman tenggelamnya Jalan Yos Sudarso, dia menyatakan, hal tersebut akibat tanah di tempat itu ambles. Gejala semacam itu dapat dilihat pada batas antara jembatan dan jalan.

Jalan itu memiliki bobot sangat berat, apalagi dilalui kendaraan-kendaraan besar. Hal tersebut mempercepat penurunan tanah di wilayah itu.

Hal itu agak berbeda dari jembatan-jembatan di jalur arteri utara. Sebab di wilayah tersebut tiang-tiang pancang jembatan sudah ditanam sampai lapisan keras sehingga bisa menahan bobot jembatan. ''Maka, penurunan jembatan berlangsung lebih lambat, sedangkan jalan lebih cepat,'' kata dia. (G6-91i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA