logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Agustus 2004 SEMARANG
Line

Siswa SD Ngaliyan 04 Pindah ke Lokal Darurat

SEMARANG - Para siswa SD Ngaliyan 04 Kota Semarang, Selasa besok mulai pindah tempat belajar ke ruang darurat. Ruang tersebut dibangun di kompleks sekolah itu di jalan raya Bambankerep, Kelurahan Pucung, Kecamatan Ngaliyan.

Sebelumnya, siswa kelas III dan V terpaksa belajar di emperan kelas. Hal itu akibat kerusakan gedung sekolah yang makin parah. Ditemui di sela-sela ''Jalan Sehat Bersama Wali Kota Semarang H Sukawi Sutarip SH'' di Kecamatan Ngaliyan, Minggu (1/8) kemarin, Kepala SD 04 Ngaliyan Katiyani mengatakan, pemindahan tersebut dilakukan secara bertahap sesuai dengan proses pembangunan yang masih berjalan.

Tahap pertama yang lebih dulu masuk kelas adalah siswa-siswi kelas III, 22 anak. ''Hari berikutnya, mudah-mudahan kelas V sudah bisa menyusul,'' ujar dia.

Lokal darurat itu masih cukup jauh dari standar kelayakan sebagai tempat pembelajaran. Sebab, ruangannya hanya berukuran 3 x 7,2 meter. Dana pembangunanya bantuan dari Pemkot.

Katiyani menjelaskan, bantuan itu dikucurkan menyusul adanya unjuk rasa warga Pucung ke balai kota, beberapa waktu lalu. Hal itu juga didukung oleh pemberitaan gencar di sejumlah media soal kondisi SD Ngaliyan 04 yang membuat siswanya terpaksa belajar di luar kelas.

Rencananya, gedung darurat yang dibangun berjumlah dua buah dengan ukuran yang sama. Karena sempit, ruang itu hanya cukup untuk dua deret meja. Itu pun, masih dalam keadaan berdesak-desakan.

Diharapkan, Rabu (2/8) lusa, pembangunan dua ruang darurat itu sudah selesai. Dengan demikian, sebanyak 116 siswa SD setempat dapat belajar di dalam kelas.

''Yen rak diniyati gawe lokal darurat ya repot (Kalau tak diniati membuat lokal darurat ya repot). Kasihan anaknya,'' kata Katiyani.

Pembongkaran Gedung

Pembangunan lokal darurat itu diupayakan menggunakan anggaran seefisien mungkin. Dari Rp 10 juta dana yang diberikan Pemkot, Rp 6,25 juta digunakan untuk pembangunan lokal darurat itu. Sisanya menurut rencana akan dialokasikan untuk memindahkan WC dan kamar mandi guru dan siswa.

''Untuk menghemat dana, kami upayakan untuk memanfaatkan bahan-bahan dari bekas pembongkaran gedung yang masih layak,'' tuturnya.

Rencana berikutnya adalah merehab ruang kepala sekolah dan ruang guru menjadi ruang kelas baru. Ruang itu kelak akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran kelas I dan II.

Soal ukuran ruang darurat yang tidak memadai, kata Katiyani, pihaknya hanya memanfaatkan lahan kosong yang ada di sekitar lokal sekolah. Selain itu, juga mengingat jumlah dana yang tersedia.

''Semuanya memang dalam keadaan darurat. Lha wis piye, apa bocahe kon prei (Lantas bagaimana lagi, apa anak-anaknya diliburkan?)" (amp-91n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA