logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Agustus 2004 SEMARANG
Line

Arsitektur Khas Indonesia

AIR mata Prof (Emeritus) Ir Sidharta seketika merebak ketika Ir Atyanto Mochtar mendekatinya. Kehadiran putra sulung mantan gubernur Jawa Tengah H Mochtar itu, membawanya pada masa silam, awal dekade 1960-an.

''Saya dan Atyanto itu seperti kakak beradik. Ia pernah ngekos di rumah saya, Rejosari,'' kata dia di sela-sela acara Reuni Emas SMA 1 Semarang, Sabtu (31/7) lalu.

Dalam acara itu, Sidharta ditahbiskan sebagai alumnus tertua. Arsitek yang kini masih aktif mengajar itu memang alumnus SMA-B (kini SMA 1 Semarang) angkatan 1950. Sebenarnya dari sisi usia, Sidharta sudah memasuki purnatugas. Namun karena diminta pihak kampus, dia pun masih mengajar.

''Semestinya Bapak pensiun empat tahun lalu, tetapi hingga hari ini masih diminta mengajar di S2 dan S3 Undip. Selain itu, Bapak juga membimbing mahasiswa S3 Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan Universitas Parahyangan Bandung,'' ujar Susiyanti, istrinya.

Untunglah kondisi fisik Sidharta cukup kompromis. Ia tidak mengalami masalah kesehatan serius, kendati harus aktif mengajar. Itu buah dari hobinya selagi muda, jalan kaki dan berenang. Sejak muda, Sidharta sering jalan kaki dari rumahnya di Jalan Erlangga Tengah No 11 Semarang ke kampusnya.

Selain itu, ayah tiga anak itu juga hobi berenang. Itu yang membuat daya tahan fisiknya cukup bagus.

''Paling-paling kecapean atau sakit lain yang wajar untuk ukuran orang tua,'' lanjut Susiyanti, yang 30 tahun lebih aktif sebagai pekerja sosial di Yayasan Pengembangan Anak Cacat (YPAC).

Arsitektur Lokal

Usia uzur pula yang membuat volume suara Sidharta menjadi lirih, sehingga kadang sulit ditangkap. Sidharta mengakui beberapa hal mulai lupa akibat pertambahan umur. Namun jika sudah bicara soal arsitektur, rasanya ada tambahan energi ekstra yang memompa semangatnya.

''Satu hal yang perlu didorong, arsitek Indonesia semestinya mulai berpikir menciptakan bangunan-bangunan yang sesuai dengan kondisi negeri ini,'' kata pria kelahiran Semarang 8 Mei 1929.

Sebab hingga kini khasanah arsitektur Indonesia masih diwarnai pengaruh dari budaya lain. Bahkan boleh dibilang, arsitek Indonesia masih sering meniru mentah-mentah sejumlah konsep arsitektur Barat. ''Padahal semestinya kita bisa menciptakan sendiri arsitektur yang khas Indonesia,'' kata dia. (Achiar M Permana-64i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA