logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Agustus 2004 EKONOMI
Line

Teori Sinyal: Keterpaduan Kebijakan Dividen dan Stock Split

PERKEMBANGAN bursa minggu lalu relatif menurun dibandingkan dengan keadaan minggu sebelumnya. Lingkungan global berupa kenaikan harga minyak dunia dan peristiwa politik berpadu dengan kenaikan kinerja emiten melalui publikasi laporan keuangan yang disampaikan, termasuk emiten yang membagikan dividen. Dengan demikian meskipun kinerja bursa menurun tetapi tertahan tidak terjadi penurunan yang tajam.

Pada akhir pekan lalu (30/7/04) bursa ditandai dengan peristiwa RUPS PT Telkom yang memutuskan pembagian dividen dan stock split (pemecahan saham). Besarnya dividen pay out ratio (DPR) ditetapkan sebesar 50%. Seberapa besar pengaruh dividen diukur dan ditentukan melalui: (1) dividen pay out ratio, (2) laba bersih per lembar saham, serta (3) bentuk dan kecepatan waktu pembagian dividen.

Koefisien DPR merupakan perbandingan antara dividen dengan laba bersih per lembar saham atau earning per share. Semakin tinggi dividen pay out ratio maka besarnya dividen yang ditetapkan akan semakin tinggi. Dengan laba bersih per lembar saham sebesar Rp 603,80 dan DPR sebesar 50%, maka berarti besarnya dividen per lembar saham yang ditetapkan sebesar Rp 301,90.

RUPS tahun lalu memutuskan membagi dividen sebesar Rp 331,16 per lembar saham. Laba bersih tahun lalu sebesar Rp 662,32 per lembar saham dan RUPS menentukan besarnya dividen pay out ratio (DPR) waktu itu sebesar 40%.

Dilihat dari perbandingan tahun ini dengan tahun lalu, maka besarnya DPR meningkat dari 40% menjadi 50%. Namun demikian laba bersih per lembar saham tahun ini (Rp 603,80) lebih rendah dari laba bersih tahun lalu (Rp 662,32), sehingga dividen yang dibagikan tahun ini Rp 301,90 lebih rendah dari pembagian dividen tahun lalu (Rp 331,16.) Terjadinya penurunan laba bersih disebabkan oleh selisih kurs mata uang rupiah terhadap dolar AS.

Teori sinyal dividen (Van Horne, 1995) mengemukakan bahwa perusahaan-perusahaan menggunakan kebijakan dividen untuk memberikan sinyal atau isyarat kepada pasar mengenai prospek perusahaan pada masa mendatang.

Dalam kondisi ketidakmerataan informasi, maka investor akan menganggap bahwa kebijakan perusahaan untuk meningkatkan dividennya merupakan sinyal yang positif. Sebaliknya, investor akan beranggapan bahwa kebijakan perusahaan untuk menurunkan dividennya merupakan sinyal prospek masa depan perusahaan yang kurang cerah.

Dalam hal kasus PT Telkom ini, isyarat penurunan diimbangi oleh adanya berita baik, yaitu: (1) disetujuinya rencana pemecahan saham 1:2 atau berarti 1 saham lama akan dipecah menjadi 2 saham baru. Secara umum peristiwa stock split akan cenderung meningkatkan kinerja saham di pasar. Berita baik (2) juga muncul dari ketetapan pembayaran dividen yang direncanakan dapat dibayarkan dalam waktu dekat (17/9/04). Berita baik berikutnya (3) dividen akan dibayarkan secara tunai. Dividen yang dibagikan secara tunai (cash dividen) bagi investor akan lebih menguntungkan daripada dividen dalam bentuk saham (stock dividen).

Kebijakan Dividen

Sesuai dengan rencana yang sudah disahkan melalui RUPS batas waktu paling lambat bagi pemegang saham untuk mendapatkan dividen ditetapkan tanggal 26/8/04. Berarti bagi investor yang memiliki atau memegang saham Telkom sebelum batas waktu tersebut akan mendapatkan dividen. Sebaliknya para investor yang baru membeli atau memiliki saham sesudah waktu tersebut sudah kadaluarsa untuk mendapatkan dividen.

Berkaitan dengan fenomena kebijakan dividen, Myron Gordon mengemukakan teori ''bid on the hands''. Dikemukakan, investor beranggapan bahwa satu burung di tangan lebih berharga dari seribu burung di angkasa. Sebenarnya saham dapat memberikan keuntungan yang lebih besar melalui capital gain atau perubahan harga saham. Namun demikian keuntungan yang lebih besar tersebut sifatnya tidak pasti. Sedangkan dividen yang ditetapkan sifatnya sudah pasti akan diterima oleh para investor.

Prosedur pembayaran dividen dilakukan melalui 4 tahap yaitu: (1) tahap pengumuman, (2) pencatatan, (3) ex dividen atau pelepasan dan (4) pembayaran. Kecenderungan yang akan terjadi pada hari ex dividen (27/8/04) harga sahamnya akan turun. Penurunan harga saham tersebut merupakan penyesuaian karena bagi investor yang membeli saham setelah ex dividen tidak lagi akan mendapatkan dividen.

Pada hari pencatatan terakhir (26/8/04) kecenderungan harga saham akan naik dibandingkan dengan harga sekarang Rp 7.750 per lembar saham. Seberapa besar kenaikannya tergantung seberapa besar respons dari pasar terhadap pengumuman dividen dan tergantung target harga stock split-nya.

Bila target harga saham baru sesudah stock split Rp 4.000 maka harga saham Telkom sebelum stock split akan cenderung naik setara Rp 8.000. Sedangkan bila target harga sesudah pemecahan saham Rp 4.250 maka harga saham sebelum pemecahan saham akan cenderung naik menuju Rp 8.500. Namun demikian hari-hari menuju target tersebut akan terjadi fluktuasi kenaikan dan penurunan harga saham yang dipengaruhi oleh faktor lain baik peristiwa dalam negeri maupun global. Hari-hari ke depan fluktuasi harga minyak dunia masih akan mewarnai bursa global dan lebih lanjut juga pada Bursa Efek Jakarta. Peristiwa politik dalam negeri tetap juga masih akan membayangi perkembangan BEJ.

Menuju hari pencatatan terakhir, harga saham yang terbentuk juga sudah merupakan harga penyesuaian termasuk di dalamnya dividen sebesar Rp 301,90. Para investor yang sudah berpengalaman dalam membeli saham dengan tujuan mendapatkan dividen akan mencari waktu dan harga yang tepat pada kurun waktu tersebut. Prinsip kehati-hatian mendorong untuk mempertimbangkan adanya kemungkinan bahwa sejak terjadi pengumuman laba, maka pasar sudah memberikan premium pada harga saham. Berarti pada harga saham yang berlaku sudah terkandung kenaikan dari prediksi dividen.

Dia akan menghindari terjadinya penurunan harga saat ex dividen yang lebih besar dari jumlah dividen yang akan diterima. Ibaratnya dia akan menghindari ''golek uceng kelangan deleg'' atau berupaya mendapatkan sesuatu tetapi kehilangan sesuatu yang lebih besar. Kombinasi antara peristiwa pembagian dividen dengan peristiwa stock split nampaknya merupakan upaya memberikan sinyal yang positif. Dengan pemilihan waktu dan harga yang tepat dalam kurun waktu tersebut, maka investor akan ''oleh uceng tanpa kelangan deleg'' atau dapat dividen tanpa dengan penurunan nilai pada harga sahamnya. Sudah barang tentu hal tersebut akan terwujud dengan prasyarat tidak terjadi peristiwa politik yang dapat mengejutkan pasar. (82)

(Dr Sugeng Wahyudi, pemerhati pasar modal, Dosen Fakultas Ekonomi Undip-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA