logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Agustus 2004 BUDAYA
Line

Cantik Indonesia dari Semarang

DI antara 50 gadis Cantik Indonesia yang mulai dikarantina Trans TV 8 Agustus mendatang, satu orang berasal dari Semarang. Namanya Adisti Visca Sari atau akrab disapa Adis.

Dia memang terpilih bersama enam orang lainnya lewat audisi di Palembang. Tapi pada setiap kesempatan, juga ketika dia terpilih menjadi wakil Palembang yang ditayangkan Trans TV 18 Juli lalu, gadis kelahiran Semarang, 15 Agustus 1984, selalu menyebut-nyebut dirinya orang dari Kota Atlas. Dan memang dia tinggal bersama keluarganya di Jl Kalingga Dalam 14, Banyumanik, Semarang.

Menunggu proses karantina di Jakarta, Adis secara serius mempersiapkan diri sembari tetap menjalani aktivitasnya sebagai penyair dan marketing Radio Prambors, serta menjadi MC.

Wajar memang kalau dia terpilih menjadi satu dari 50 gadis. Kalau Anda bertemu dengannya, Anda akan menjumpai sosok gadis yang imut, cantik, luwes, gaul, dan juga smart apabila diajak bicara. Itu modal yang bagus untuk meraih predikat Cantik Indonesia.

Sekadar informasi, ajang yang dikemas Trans TV itu betapa pun sejenis dengan reality show di banyak stasiun televisi swasta lainnya, tetapi tetap memiliki perbedaan yang spesifik. Ya, yang dicari tak semata gadis cantik, tapi juga memiliki bakat tertentu. Apalagi, penilaian kecantikan yang diusung bersandar pada konsepsi 3 B (Beauty, Brain, Behaviour). Ditemui di rumah neneknya di Jl Halmahera I/9 Semarang, Adis memakai T-shirt hitam dalam paduan rok jins. ''Saya ingin memenuhi keinginan mendiang Mama. Sebelum meninggal Mama ingin saya menjadi entertainer kelas nasional. Alhamdulillah, saya terpilih dan saat itubertepatan dengan ultah Mama. Itu kado buat Mama,'' katanya mengawali cerita. Ibunya, Dwi Yuli Andriani telah berpulang November 2001.

Tapi untuk menjadi seorang wakil Cantik Indonesia, dia harus melalui proses yang rumit, dan penuh perjuangan. Dia gagal ketika ikut audisi di Yogyakarta. Tapi, karena tekadnya begitu bulat dan diperbolehkan ikut audisi di daerah lain, dia nekad terbang ke Palembang.

Tekad telah menggebu dan Adis tak boleh surut. ''Dia urus semuanya. Tiket kereta, tiket pesawat ke Palembang, semua dia urus sendiri. Uangnya pun dari hasil kerja dia. Saya cuma dikasih tahu saja. Sebagai orang tua cemas juga, tapi hanya doa yang bisa saya berikan,'' kata Eddy Wirawanto, ayah Adis yang ikut menemani putri bungsunya selama berbincang dengan Suara Merdeka.

Jalan menuju kebintangan telah terbuka bagi Adis. Demi mendiang mamanya, dia akan berjuang superkeras. Salat malam untuk mendekatkan diri dengan Tuhan rutin dijalankan sembari secara ketat menjaga tubuhnya. (Saroni Asikin-63)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA