logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 02 Agustus 2004 BANYUMAS
Line

Dipalak Preman Pedagang Alun-alun Resah

PURBALINGGA- Ternyata di balik kemeriahan malam Minggu di alun-alun ada kejadian yang memprihatinkan. Ratusan pedagang di alun-alun resah karena dipalak preman. Memang uang yang diminta tak terlalu banyak. Namun ulah itu membuat mereka tak nyaman bekerja.

Sejumlah pedagang, Sabtu (31/7) malam, mengakui dipalak minimal Rp 1.000/orang. Namun jika dasaran banyak, mereka ditarik lebih banyak.

''Mereka meminta setengah memaksa dan mengancam. Karena tak mau ribut kami terpaksa memberikan uang,'' kata seorang pedagang aksesori, sebut saja Sudar (40), sambil celingukan. Dia takut diketahui preman berbicara dengan wartawan.

Suara Merdeka memergoki tiga preman meminta uang ke pedagang. Layaknya kondektur, mereka mendatangi pedagang sambil membawa beberapa lembar uang. Dengan wajah angker, satu per satu pedagang mereka datangi. Karena tak mau ribut, pedagang yang sudah hafal wajah mereka langsung memberi uang. Bila belum diberi, preman itu tak mau pergi.

''Kalau tarikan retribusi oleh petugas resmi tidak masalah bagi kami karena uang itu masuk ke kas pemerintah. Kalau ini kan tidak resmi. Uangnya juga mereka pakai minum-minum. Jadi berapa ratus ribu rupiah uang yang tak masuk ke pemerintah? Yang rugi kan pemerintah. Masa seperti ini dibiarkan saja,'' ujar Situn (26), pedagang mainan anak-anak.

Uang Keamanan

Petugas retribusi malam itu mengakui dirugikan oleh ulah preman tersebut. Sebab, pedagang kerap menolak membayar retribusi Rp 1.000 dengan alasan sudah membayar "uang keamanan" ke preman. Akibatnya, target pemasukan retribusi setiap malam Minggu tak terpenuhi.

Pedagang yang berjualan pada malam Minggu antara 150 dan 180 orang. Jika seorang pedagang dipalak minimal Rp 1.000 berarti dalam satu malam itu "uang keamanan" yang terkumpul lebih dari Rp 150.000. Uang itu sama sekali tak masuk ke kas pemerintah, tetapi dipakai para preman untuk minum-minum atau foya-foya.

Pedagang menuturkan preman beraksi sebelum petugas resmi bekerja. Mereka tiga-lima orang. Orangnya itu-itu saja. Baik pedagang maupun petugas penarik retribusi berharap ada beberapa anggota Satpol PP diterjunkan untuk mengamankan setiap malam Minggu. Sebab, selama ini tak pernah ada operasi preman pada malam Minggu.

''Kami khawatir jika tidak segera ditertibkan, para preman itu makin berani. Kalau begitu kami akan pergi dari sini dan pindah ke daerah lain yang lebih aman. Biar untung sedikit, yang penting tenang saat berdagang. Daripada pembeli ramai, tetapi terus dipalaki terus,'' ujar Siti, pedagang pakaian.(F10-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA