| Minggu, 01 Agustus 2004 | SEMARANG |
Dari Reuni Emas SMA 1 Semarang''Dasar Anak SMA, Susah Banget Dibilangin''Tiada masa paling indah, masa-masa di sekolah Tiada kisah paling indah, kisah kasih di sekolah. LAGU ''Kisah Kasih di Sekolah'' yang pernah dipopulerkan oleh Obbie Messakh pada dekade 1980-an itu serasa membuat Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso kembali jadi anak SMA. Bersama sejumlah alumnus SMA-B yang hadir dalam Reuni Akbar SMA 1 Semarang 1954-2004, Sabtu (31/7) kemarin, gubernur kelahiran Semarang itu larut dalam kebahagiaan. Bang Yos, demikian ia biasa dipanggil, begitu ekspresif bernyanyi dalam iringan Flashback Band pimpinan Nunus Utomo, band spesialis lagu sweet memories yang sengaja dihadirkan untuk memeriahkan acara kangen-kangenan itu. Ia dengan kompak mengomando para ''Kere Yaik'', demikian panggilan akrab alumni angkatan 1960-1969, untuk membuat harmonisasi vokal yang bagus. Tak pelak, sajian dadakan itu mengundang aplaus 3.000-an alumnus yang memadati tenda berukuran 30 m x 40 m, yang dipasang di tengah lapangan sepakbola SMA 1. Seperti tak puas, dia melanjutkan pertunjukannya dengan ''Massachusets'', yang populer lewat grup legendaris Bee Gees, yang di-medley dengan ''Kembali ke Jakarta'', hits kepunyaan Koes Plus. Kembali sorai membahana berbaur dengan bunyi terompet dan kitiran kertas warna-warni, yang berputar-putar karena tiupan angin. Siang itu pula, Sutiyoso beriur bersama para lulusan angkatan 1960-1965 menggumpulkan dana tali asih untuk guru dan sekolah. Kepada para ''mantan'' guru, mereka memberikan tali asih Rp 50 juta. Jumlah yang sama juga diberikan kepada sekolah untuk pembangunan laboratorium. ''Reuni ini rasanya seperti membawa kembali ke suasana SMA lagi. Terlebih berjumpa dengan kawan-kawan, beberapa guru yang masih ada, dan gedung sekolah yang tidak banyak berubah,'' kata Sutiyoso kepada Suara Merdeka, di sela-sela acara. Seragam SMA Benar juga, reuni membuat seseorang lupa usia, serasa masih SMA saja. Lihat saja tingkah polah alumni yang datang. Begitu bertemu teman, mereka langsung berteriak dengan gaya khas anak muda. Pada saat acara berlangsung, mereka lebih asyik berbincang dengan kawan seangkatan ketimbang memperhatikannya. Atau, sibuk memainkan terompet dan kitiran kertas sehingga riuh bunyinya. Seakan-akan mereka memanggungkan kembali adegan masa silam, asyik ngobrol dengan teman sebangku ketika bapak/ibu guru menerangkan di depan kelas. Sampai-sampai, Kris Biantoro, MC gaek yang memandu acara siang itu, berkali-kali mengingatkan pengunjung untuk lebih terfokus pada acara. ''Dasar 'anak-anak SMA', susah banget dibilangin,'' canda pengasuh acara ''Dansa Yo Dansa'' di TVRI itu. Upaya mengekspresikan kerinduan pada usia SMA dilakukan dengan amat pas oleh Binarno Faturachman, alumnus angkatan 67. Ia datang dengan baju SMA lengkap dengan logo OSIS yang agak lusuh di sakunya. Tak lupa, sebuah tas punggung dicangklong, menyempurnakan penampilannya sebagai ''ABG''. ''Saya memang sengaja menggunakan baju seragam seperti ini, sekadar nostalgia,'' kata dia. Mas Bin, demikian kawan-kawan memanggil, seperti mempersiapkan diri begitu rupa ke suarana reuni. Pada pertengahan acara, mantan ketua kelas itu mulai ''berulah''. Berkeliling ke beberapa orang, lantas meminta mereka membubuhkan tanda tangan ke seragam OSIS-nya. Aha, tingkah polah Binarno ini mengingatkan pada yang dilakukan anak-anak SMA kini, begitu dinyatakan lulus ujian. ''Tapi dulu belum ada OSIS macam ini. Yang ada Kojarsena (Korps Pelajar Serbaguna-Red), seragamnya mirip Pramuka sekarang.'' Haru dan Bahagia Ah ya, Binarno juga menyimpan merchandise yang ia peroleh ketika SMA. Dengan bangga, ia menunjukkan kepada Suara Merdeka kartu ujian SMA, yang masih disimpannya dengan rapi. ''Kartoe'' bernomor 143 itu dikeluarkan oleh ''Panitia Oedjian Penghabisan Tahoen 1967''. Selain itu, Binarno menyimpan kartu tanda anggota organisasi siswanya. Kebanggaan serupa yang membuat Prof (Emeritus) Ir Sidharta (alumnus 1950) menghadiri acara reuni itu. Dosen S3 Undip, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), dan Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung itu disebut sebagai alumnus tertua. Ia tak bisa menahan haru ketika dihampiri Ir Atyanto Mochtar, putra sulung mantan Gubernur Jateng Mochtar, yang juga adik kelasnya ketika SMA. Di sela-sela perbincangan, ia menyeka air mata yang hadir tiba-tiba. Ekspresi rasa haru dan bahagia, sebab mereka sudah 15 tahun lebih tak bersua. ''Kami sudah seperti kakak adik. Saya sempat indekos di rumah Mas Dharta di Rejosari. Saya berkawan baik dengan Dr Adhyatma (mantan menkes), adiknya,'' ujar Atyanto. Haru dan bahagia yang sama mungkin juga hadir di benak Min Marsidi, Pak Bon SMA 1 yang sangat terkenal di mata alumni. Reuni Akbar telah membuatnya menjadi ''Pak Gub'', lantaran Sutiyoso spontan bertukar topi dengannya, ketika Pak Min (demikian dia dipanggil oleh ''anak-anak'') diminta naik ke atas panggung. ''Rasane seneng banget. Boten nyangka saged ngangge topi sing ana tulisane 'Pak Gub'. Sayange, kula boten gadhah potrete (Rasanya senang sekali. Saya tak menyangka bisa memakai topi bertuliskan 'Pak Gub'. Sayang, saya tidak punya potretnya),'' akunya. Reuni memang memungkinkan Pak Min ''bertukar jabatan'' dengan Sutiyoso lewat topi. Itu juga artinya, pertemuan yang diatur oleh panitia yang dipimpin oleh Brigjen Hendrardji (Waka Pomdam Jaya) itu membuat posisi alumni begitu setara. Tak ada beda antara Brigjen Pol (Purn) Tono Amboro, Prof Ir Sidharta (dosen), Kecuk Hendaryadi (Ketua Gapensi Jateng), Drs Sasongko Tedjo MM (Pemimpin Redaksi Suara Merdeka), dan alumnus lain. Reuni membuat batas antara status yang satu dan yang lain menjadi retas. Tak ada beda antara jenderal dan ''Kere Yaik'', antara yang hebat dan biasa-biasa saja, antara sukses dan tidak. Semua larut dalam bahagia dan haru yang sama. (Achiar M Permana-89) |