logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 01 Agustus 2004 BINCANG BINCANG
Line

Bermula dari "Fisika Itu Asyik"

SEORANG guru menyuruh salah satu siswa ke depan kelas. Sampai di depan, siswa itu diminta berjalan santai kembali ke tempat duduknya. Ketika siswa berjalan, sang guru mendadak mendorong punggung siswa itu. Sempoyonganlah dia, hingga menabrak tembok. Semua penghuni kelas pun tertawa lepas, karena menganggap adegan itu lucu.

Guru itu, Handoyo namanya, adalah guru fisika Yohanes Surya di SMA. Dia sesungguhnya sedang menerangkan tentang percepatan, bahwa siswa itu terdesak karena ada dorongan dari belakang yang disebut percepatan.

Handoyo memang bukan orang pertama yang mengenalkan Surya pada fisika. Tapi Handoyolah yang mampu menebarkan pesona fisika pada diri lelaki kelahiran Jakarta, 6 November 1963 itu. "Kepintaran Pak Handoyo dalam menerangkan substansi fisika itu menjadi kekuatan yang mengubah gambaran saya bahwa fisika pada dasarnya asyik. Pak Handoyo berhasil menerangkan fisika dengan pendekatan yang sederhana, yaitu mengaitkannya dengan hal-hal yang ada di sekelilingnya," beber Yohones Surya dalam bukunya, Fisika untuk Semua (2004).

Salah seorang teman sekolahnya pun selalu memanggil dia sebagai bapak ilmu pengetahuan. "Saat itu saya merasa diledek. Tapi mungkin ledekan itu juga yang justru jadi kekuatan," kata lelaki murah sapa ini.

Keinginannya untuk belajar pun kian besar. Setamat SMA, dia memantapkan pilihan pada Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia dan lulus 1986. Selanjutnya ia menempuh program master dan doktor di College of William and Mary, Virginia Amerika Serikat.

Program masternya diselesaikan tahun 1990 dan program doktor 1994 dengan indeks prestasi kumulatif 4,00 (dari maksimum 4,00). Semua dengan predikat best graduate cum laude. Selama menyelesaikan program master dan doktor, ia pernah bekerja sebagai teaching assistant di College of William and Mary (1988) dan sebagai research assistant di College of William and Mary (1989-1994).

Tahun 1992, di tengah-tengah kesuntukan kuliah, Surya tergerak oleh sebuah pengumuman bahwa William & Marry College menjadi tuan rumah International Physics Olympiads di Halics, 1993. Bersama temannya, Agus Ananda, dan FMIPA UI, dia menggembleng lima siswa untuk mengikuti lomba itu. Hasilnya, Indonesia mendapat satu perunggu dan satu honourable mention.

Keterlibatan dan andilnya untuk hal yang satu itu kian besar. Apalagi sejak 1933 dia duduk sebagai anggota pengurus Olimpiade Fisika Internasional dan Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia, hingga kini. Dia juga menjadi pengajar dan peneliti pada program pascasarjana UI untuk bidang fisika nuklir (1995-1998).

Dia pun makin mantap di bidang ini dengan dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Bidang Fisika, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Tangerang, Maret tahun ini.

Pengalaman Unik

Bertahun-tahun menggembleng para jenius, President of Asian Phisics Olimpiad ini juga memiliki pengalaman unik. "Ada anak didik saya yang nyeleneh dan kadang membuat saya tertawa geli. Kalau diajar di dalam kelas, dia membawa binatang. Kadang kodok, ayam, atau burung. Bahkan ia sempat menggiring beberapa bebek ke kelas. Jadinya ramai, wek-wek wek-wek. Tapi saya banyak belajar dari mereka," kenang suami Christina Surya ini.

Dari tahun ke tahun, upaya Yohanes Surya menggembleng anak-anak untuk merebut keping-keping medali di ajang adu pintar fisika tingkat dunia pun makin banyak menuai prestasi. Dengan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) yang dia pimpin, dia menggandeng Depdiknas untuk terus menjaring potensi fisikawan muda erta menggemblengnya.

Hasilnya, tahun 2002 di Olimpiade Fisika Internasional, siswa asuhannya berhasil meraih 3 emas. Tahun 2003, berhasil meraih 6 emas pada Olimpiade Fisika Asia di Thailand sekaligus merebut gelar juara umum.

"Saya ingin Indonesia terkenal, terhormat di mata internasional," katanya.

Karena itu pula, sekalipun sarat prestasi fisika, "Saya lebih suka disebut sebagai mediator, atau lebih tepat fasilitator untuk anak-anak meraih hadiah Nobel atau medali emas," katanya.

Di luar itu, Yohanes Surya merupakan penulis produktif bidang fisika. Buku-buku yang sudah dan akan dipublikasikan meliputi IPA Dibuat Mudah untuk siswa SD (8 edisi), Fisika Itu Mudah untuk siswa SLTP (9 edisi), dan Fisika Itu Mudah untuk siswa SMA (9 edisi).

Ia juga menulis komik fisika Archie dan Meidy serta percobaan fisika untuk anak-anak dalam bentuk kartun dengan judul Fisika Itu Asyik. (Sucipto Hadi Purnomo-72)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA