SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Jumat, 30 Juli 2004

 

- Bangunan fisik rapuh. Itulah keadaan sekolah-sekolah kita saat ini. Anak-anak terpaksa harus mengungsi kala belajar. Tidak lagi berada di gedung yang benar tetapi menempel di rumah-rumah sebelah sekolah, tenda-tenda darurat, atau di lapangan sekalipun seperti yang terjadi di SD Ngaliyan 04, Kelurahan Bambankerep, Semarang. Sangat mungkin bangunan yang rusak berat itu telah terlalu tua umurnya. Akan tetapi juga sangat mungkin masih terlalu muda untuk ambruk. Kenapa?

- Kita menggarisbawahi ungkapan Rektor IAIN Walisongo Semarang, Prof Dr Abdul Djamil MA mengenai betapa suram penegakan hukum di Indonesia: seperti sarang laba-laba, yang hanya bisa menangkap serangga kecil, lalat, nyamuk, atau semut rangrang. Dengan spider web, mana mungkin bisa menangkap macan? Sinisme soal hukum itu mengemuka dalam acara pengukuhan guru besar Prof Dr Ahmad Rofiq MA, Rabu lalu. Lalu ke sisi kelemahan mana tamsil itu ditujukan bagi penegakan hukum kita?

PADA awal 2004, Muslan Abdurrahman melakukan publikasi atas ringkasan penelitian di sebuah Desa di Jawa Timur. Penelitian difokuskan pada tingkat kepatuhan hukum calon-calon TKI terhadap aturan tentang Penempatan Tenaga Kerja Indonesia ke Luar Negeri seperti yang tertuang dalam Kepmenakertrans Nomor 104 A/MEN/2002.

ISTILAH sedekah bumi dan sedekah laut sudah Iama dikenal bangsa kita jauh sebelum kita mencapai kemerdekaan dengan mendirikan Negara Republik Indonesia. Kedua istilah itu merupakan perpaduan, sintesis, atau sinkretisme antara kepercayaan lama dengan kepercayaan baru.

Sehubungan tulisan saya berjudul ''BNI Cabang Magelang Tidak Fair'' yang dimuat rubrik ini pada 14 Juli 2004, kepala BNI Cabang Magelang didampingi staf telah menemui saya secara pribadi dan tulus. Beliau mengaku mengeluarkan uang pecahan ribuan yang jelek sekitar seratus dua puluh juta rupiah.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA