| Jumat, 30 Juli 2004 | PANTURA |
Ganasidi Gelar Pertunjukan BulananDALANG Ki Enthus Susmono, dalam beberapa hari lalu amat sibuk. Dia dengan suka rela membantu terselenggaranya pergelaran wayang di Alun-alun, pada Senin malam (26/7) lalu. Yang punya gawe adalah organisasi pedalangan, Ganasidi Kota Tegal, yang dipimpin Ki Barep. Saat itu, dalang yang tampil adalah Ki Anton Surono yang membedah cerita Virus Dasamuka. Enthus memasok tujuh pengrawit beserta seperangkat gamelan untuk membantu menyemarakkan acara itu. Hanya, acara seremonial yang sudah diagendakan gagal, yakni penyerahan secara resmi seperangkat wayang kulit milik Enthus yang dilego ke Pemkot. Wali Kota Adi Winarso SSos baru bisa menonton sekitar pukul 23.30, karena sebelumnya harus bertatap muka dengan ratusan warga Kelurahan Kalinyamat Kulon. Enthus menjual wayang beserta gawang kepada Pemkot Rp 90 juta. ''Namun yang saya terima bersih hanya Rp 76 juta. Itu karena harus dipotong pajak,'' ujarnya kemarin. Wayang yang dijual itu, merupakan dokumenter Pemkot. Itu karena wayang gaya tegalan rumpun cirebonan tersebut, merupakan campuran dari wayang lama yang diperbarui, ditambah wayang yang baru dibuat. Melihat gemerlapnya wayang itu, dalang sepuh Ki Sarjono langsung memeluk tatahan kulit tersebut sambil menangis haru. Itu karena dia ingat dengan wayang mahal, yang pernah dimiliki oleh mertuanya, namun tak kuasa menyimpan lama karena harus dilepas ke Belanda. Virus Dasamuka Gebrakan Surono di awal pentas cukup memesona, namun di akhir pentas sekitar pukul 03.00, tampak dia kehabisan stamina. Sinopsis kisah Virus Dasamuka, berinti pada kepiawaian tokoh Pendeta Dorna yang menebarkan virus maut lewat tangan Arjuna, yang sudah tercemar jatidirinya. Semar pun menjadi target pembunuhan, dengan alasan untuk tumbal bersatunya antara angkara murka Korawa dan Pandawa. Namun berkat Semar pulalah, virus Dasamuka berhasil ditangkal. Ki Anton Surono agaknya perlu menambah terus jam terbang pentasnya. Kadang dia terlihat ragu dalam melepas dialog (antawacana) dan guyonan, serta dalam menyabet wayang. Sebagai dirigen, Surono juga kadang agak gamang menginstruskikan kepada pengrawit. Untungnya dia tidak menggurui, meski aslinya dia berprofesi sebagai guru SMA. Namun toh, dia sempat menyentil mahalnya pendidikan. Misalnya, ada sekolah yang menarik uang gedung Rp 700.000/murid. Ketua Ganasidi, Ki Barep tampak bangga dengan diluncurkannya program pentas wayang bulanan. Pentas wayang itu ditradisikan bukan di hari libur, melainkan di hari Senin malam Kliwon, kata dia, karena Senin bagi sebagian orang Jawa merupakan hari penuh berkah (anggoro kasih). Menurut Barep, dana pentas didapat dari Pemkot sebesar Rp 19,5 juta. Anggaran itu untuk membiayai tujuh kali pentas. Pergelaran perdana menampilkan dalang Ki Sarjono. Setelah Ki Anton Surono, bulan depan pentas akan diisi Ki Bogem. Pertunjukan dilakukan selang-seling, yakni wayang golek dan wayang kulit. (Nuryanto Aji-34a) |